Masa depan TikTok di Amerika Serikat sedang berada di ujung tanduk. Aplikasi video pendek populer yang kini menjadi bagian penting dari kehidupan digital 170 juta warga Amerika itu harus menghadapi kemungkinan larangan penuh di negeri Paman Sam. Presiden Donald Trump baru-baru ini mengungkap bahwa kesepakatan penjualan TikTok kepada entitas non-China akan segera tercapai sebelum batas waktu yang ditentukan, yakni 5 April 2025.
Masalah ini bermula dari Undang-Undang Keamanan Nasional AS tahun 2024 yang mewajibkan ByteDance, induk perusahaan TikTok asal China, untuk melepas kepemilikannya atas aplikasi tersebut. Pemerintah AS mengkhawatirkan bahwa kepemilikan oleh perusahaan China dapat membuat TikTok menjadi alat Beijing untuk mengumpulkan data warga Amerika atau menyebarkan pengaruh politik secara halus.
Dalam pernyataannya di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu malam (30 Maret 2025), Trump menekankan bahwa banyak investor tertarik untuk mengambil alih TikTok. Ia menyebutkan bahwa pihaknya tengah memproses beberapa tawaran dari calon pembeli dan optimistis kesepakatan akan tercapai tepat waktu.
"Minat terhadap TikTok sangat besar. Kami punya banyak pihak yang ingin mengambil alih," ujar Trump, dikutip oleh Channel News Asia.
Namun, hingga saat ini pihak TikTok belum memberikan komentar resmi mengenai pernyataan tersebut. Di sisi lain, para investor mulai bergerak untuk menentukan posisi mereka dalam dinamika kepemilikan aplikasi ini.
Salah satu kabar besar datang dari laporan Reuters, yang menyebutkan bahwa Blackstone, perusahaan ekuitas swasta ternama, sedang mempertimbangkan untuk membeli sebagian kecil saham TikTok. Langkah ini akan dilakukan dengan bergabung bersama investor ByteDance non-China lainnya seperti Susquehanna International Group dan General Atlantic.