Dalam surat tersebut, Tesla juga menegaskan bahwa eksportir dari AS akan langsung terkena dampak yang tidak proporsional akibat pembalasan perdagangan dari negara lain. “Penilaian yang dilakukan oleh USTR terhadap isu ini bisa memberikan peluang untuk memperbaiki kondisi perdagangan yang tidak adil, sekaligus tetap memperhitungkan kebutuhan sektor ekspor dari perusahaan AS,” jelas Tesla lebih lanjut.
Dalam latar belakang kebijakan tarif yang diterapkan oleh Trump, mantan presiden tersebut memberlakukan kenaikan tarif yang signifikan, yang secara langsung berpengaruh pada penjualan mobil listrik di pasar global. Negara-negara seperti Uni Eropa, Kanada, dan China tidak tinggal diam; mereka pun telah mengumumkan langkah balasan besar-besaran terhadap barang-barang asal AS. Hal ini menunjukkan betapa kompleks dan rentannya hubungan perdagangan internasional di era tersebut.
Selain itu, Tesla juga mengalami tekanan di pasar modal. Saham perusahaan ini anjlok lebih dari sepertiga dalam jangka waktu hanya sebulan. Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah sikap politik Musk yang terkadang kontroversial, termasuk dukungan terhadap kalangan sayap kiri di Jerman dan pernyataan-pernyataan menohok yang merugikan citranya, seperti tuduhan terhadap Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengenai keterlibatan dalam skandal 'grooming'.
Penjualan Tesla di Eropa dan beberapa negara lainnya juga tercatat menurun drastis, menunjukkan pertanda bahwa ketegangan yang ada mungkin sudah mulai mendorong konsumen menjauh dari merek ini. Tidak hanya itu, di Amerika Serikat, banyak pengguna Tesla yang mulai mengekspresikan ketidakpuasan mereka terhadap Musk dengan memasang stiker yang mencerminkan kritik dan penyesalan atas keputusan mereka untuk membeli produk Tesla.