Empat Fungsi Utama Sound System Masjid
Ada empat fungsi utama sound system masjid yang menurut Kang Eep menjadi fondasi penataannya:
- Suara harus datang dari arah kiblat, sehingga pendengaran jamaah secara naluriah menghadap ke kiblat, mengikuti arah imam dan khatib.
- Semua jamaah harus mendengar suara dengan level dan energi yang relatif sama, dari saf depan hingga saf paling belakang.
- Informasi harus dapat disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami, tanpa jamaah harus menebak-nebak atau mengulang dalam pikiran.
- Menghadirkan rasa audial khas masjid, yaitu kesan megah dan khusyuk, dengan gaung yang terkontrol, tidak berlebihan, namun juga tidak mati seperti ruang studio rekaman.
Keempat fungsi ini, menurut Kang Eep, menegaskan bahwa masjid bukan ruang konser dan bukan pula ruang kedap total. Masjid memiliki karakter akustik tersendiri yang harus dijaga, bukan dihilangkan.
Masalah Umum Tata Suara Masjid
Di lapangan, Kang Eep menemukan persoalan sound system masjid umumnya berulang pada pola yang sama. Gaung yang terlalu panjang membuat kata-kata saling membaur. Flutter echo yang tidak terkontrol menciptakan suara bergetar dan melelahkan telinga. Distribusi energi suara yang tidak merata menyebabkan sebagian jamaah merasa terlalu keras, sementara yang lain justru kesulitan mendengar. Belum lagi persoalan tingkat kekerasan suara yang sering kali bergantung pada selera personal.
Secara teknis, Kang Eep merumuskan bahwa kualitas sound system masjid ditentukan oleh empat faktor utama:
Akustik ruangan
Pemilihan peralatan sound system
Penempatan dan arah loudspeaker
Pengaturan atau setting sound system
Dari keempat faktor tersebut, akustik ruangan kerap menjadi sumber persoalan paling mendasar. Banyak masjid dibangun dengan material keras seperti marmer, granit, kaca, dan beton demi kesan mewah dan monumental. Namun material-material ini bersifat sangat memantulkan bunyi. Tanpa penataan akustik yang tepat, suara akan berputar-putar di dalam ruang dan merusak kejernihan percakapan.
Revolusi Tata Suara Masjid: Naik Kelas, Tidak Asal Bunyi Lagi
Revolusi pertama adalah penataan akustik ruangan masjid. Idealnya, hal ini sudah dilakukan sejak tahap perencanaan pembangunan masjid. Namun jika masjid terlanjur dibangun dan kondisi akustiknya tidak mendukung, maka diperlukan upaya perbaikan akustik. Cara ini umumnya menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan teknis hingga biaya yang lebih mahal, serta hasil yang tidak selalu optimal. Meski demikian, penataan akustik tetap membutuhkan perencanaan dan biaya karena dampaknya sangat signifikan terhadap kejernihan suara.