Tampang

Revolusi Sound System Masjid di Era Dakwah Modern

28 Jan 2026 17:11 wib. 133Advertorial
0 0
Revolusi Sound System Masjid di Era Dakwah Modern

Keindahan arsitektur sering menjadi kesan pertama sebuah masjid. Kubah megah, ornamen indah, dan ruang yang lapang kerap memikat mata. Namun, di balik kemegahan visual itu, ada satu unsur yang tak kalah menentukan kualitas sebuah masjid sebagai ruang ibadah dan dakwah, yakni kejernihan tata suaranya.

Pandangan ini disuarakan oleh Eep S. Maqdir, praktisi dan konsultan akustik serta sound system masjid. Lahir di Garut pada tahun 1972, Eep merupakan alumnus Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan konsentrasi elektronika, instrumentasi, dan akustik bangunan. Sejak pertengahan 1990-an ia telah menekuni dunia audio, mulai dari home audio, home theater, hingga ruang musik. Namun sejak 2019, perhatiannya semakin terfokus pada satu isu yang ia anggap krusial bagi umat, yaitu penataan sound system masjid. Dalam berbagai forum dan praktik lapangan, ia lebih akrab disapa Kang Eep.

Bagi Kang Eep, suara bukan sekadar pelengkap. Masjid adalah ruang percakapan publik tempat pesan keagamaan disampaikan secara langsung kepada jamaah, sehingga ketika suara tidak jelas, artikulasi kabur, atau gaung berlebihan, pesan dakwah berisiko tidak tersampaikan dengan utuh. Karena itu, penataan sound system masjid menjadi isu penting yang kerap luput dari perhatian, meskipun sound system masjid seharusnya masuk ke kategori audio profesional sejajar dengan sistem tata suara pertunjukan langsung.

Harmonisasi Estetis dan Teknis untuk Suara yang Lebih Eksis

Tata suara masjid pada hakikatnya merupakan gabungan antara akustik ruang dan perangkat elektronik. Akustik berkaitan dengan fisika bangunan, yaitu bagaimana bentuk ruang, volume, dan material memengaruhi perilaku bunyi, sementara perangkat elektronik berfungsi menyuarakan ulang sumber suara agar terdengar jelas, merata, dan terkontrol oleh seluruh jamaah. Karena fungsinya bukan menciptakan suara baru, melainkan memperkuat dan mendistribusikan suara, sistem ini lebih tepat disebut sebagai sound reinforcement, yang dalam praktik penataan masjid modern dipahami sebagai harmonisasi antara estetika dan teknis agar kualitas suara tidak hanya terdengar, tetapi benar-benar hadir dan eksis sebagai bagian dari pengalaman ibadah.

Kejernihan Percakapan sebagai Inti Tata Suara Masjid

Dalam konteks masjid, Kang Eep menegaskan bahwa parameter terpenting bukanlah kekuatan suara atau efek musikal, melainkan kejernihan percakapan atau speech intelligibility. Pada khutbah, kajian, diskusi, maupun shalat berjamaah, suara imam atau khatib harus sampai ke jamaah dengan artikulasi yang utuh. Suara yang terlalu bergema, echo yang saling bertumpuk, atau distribusi energi suara yang tidak merata akan membuat jamaah kehilangan fokus. Alih-alih khusyuk, jamaah justru sibuk berkonsentrasi untuk menangkap apa yang diucapkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu kualitas dakwah itu sendiri.

<123>

0 Komentar

Belum ada komentar di artikel ini, jadilah yang pertama untuk memberikan komentar.

BERITA TERKAIT

BACA BERITA LAINNYA

POLLING

Setujukah Anda Pemerintah Tidak Menetapkan Bencana Sumatera menjadi Bencana Nasional?