Dalam mengenali tanda-tanda Lailatul Qadar, Rasulullah SAW telah menjelaskan beberapa ciri khas yang mengikuti malam mulia ini. Dalam buku "Seri Fiqih Kehidupan" yang disusun oleh Ahmad Sarwat, terdapat beberapa petunjuk yang bisa diperhatikan untuk menentukan apakah malam tersebut memang Lailatul Qadar.
Salah satu ciri penting adalah suasana pagi setelah malam itu. Pada pagi hari Lailatul Qadar, udara cenderung tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula dingin. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, "Lailatul Qadar adalah malam yang tenteram, dan esok paginya, matahari terbit dengan sinarnya yang lemah berwarna merah." Ini menunjukkan betapa mendalamnya kedamaian yang dapat dirasakan pada malam tersebut.
Tanda lain adalah cahaya mentari yang tidak menyilaukan saat terbit. Sebagaimana yang diungkapkan dalam hadits, "Keesokan hari setelah malam Lailatul Qadar, matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan" (HR Muslim). Ini menggambarkan keindahan dan keunikan pagi setelah malam penuh berkah tersebut.
Menariknya, beberapa riwayat menunjukkan bahwa ada yang mendapatkan karunia untuk melihat Lailatul Qadar melalui mimpi. Hal ini menjadi indikasi bahwa Allah SWT memberikan tanda-tanda kepada hamba-Nya yang terpilih. Sejumlah sahabat Nabi SAW menyatakan bahwa mereka merasakan kehadiran malam Lailatul Qadar dalam mimpi-mimpi mereka, suatu pengalaman yang spesial dan penuh makna.
Tanda fisik lainnya juga bisa dilihat dari bentuk bulan. Rasulullah SAW pernah berdiskusi mengenai Lailatul Qadar dengan sahabat-sahabatnya. Dalam pernyataannya, beliau menyinggung bahwa bulan saat itu bisa muncul dalam bentuk yang menyerupai separuh nampan (HR Muslim). Ini merupakan observasi yang sangat menarik dan bisa dijadikan petunjuk untuk mendalami malam yang mulia.