Zuhro menjelaskan, tagar yang hangat diperbincangkan ini sebenarnya adalah bagian dari suksesi. Artinya, ini menunjukkan dalam bahasa demokrasi, setiap lima tahun akan digelar pemilihan umum untuk memilih presiden. Sehingga menurutnya, bahasa dalam kaos tersebut sejatinya biasa saja.
Namun, Zuhro menyampaikan bahwa bila ternyat moment dan konteksnya berpihak kepada calon yang lain, hal itu akan menjadi kemenangan.
"Karena secara demorasi itu ketika momen dan konteks tadi itu ternyata berpihak kepada pasangan calon lain, itu betul-betul akan menjadi kemenangan," tuturnya.
Saat ini atmosfer politik sudah semakin memanas. Zuhro mengaku meski sudah mulai terasa sejak sekarang, peta politik masih belum bisa diprediksi olehnya. Zuhro pun menanggapi mengenai pertanyaan apakah hadirnya kaos tersebut merupakan ketidakpuasan publik.