Pengalaman demam di malam hari saat sedang sakit adalah hal yang sangat umum. Banyak orang merasa gejala demamnya memburuk setelah matahari terbenam, membuat malam terasa lebih panjang dan tidak nyaman. Sensasi panas yang merambat di tubuh, keringat dingin, atau menggigil adalah tanda-tanda yang familier. Fenomena ini bukan kebetulan belaka. Kenaikan suhu tubuh pada malam hari saat sakit sebenarnya merupakan respons biologis kompleks yang melibatkan ritme alami tubuh, sistem kekebalan, dan beberapa faktor eksternal.
Peran Ritme Sirkadian: Jam Biologis Tubuh
Tubuh manusia punya ritme sirkadian, yaitu siklus biologis alami yang berlangsung sekitar 24 jam dan diatur oleh cahaya dan kegelapan. Ritme ini memengaruhi banyak fungsi tubuh, termasuk suhu, hormon, dan siklus tidur-bangun. Suhu tubuh normalnya berada pada titik terendah saat kita tidur nyenyak di malam hari dan naik perlahan sepanjang hari. Saat kita sakit, ritme sirkadian ini berinteraksi dengan respons kekebalan tubuh.
Ketika infeksi atau peradangan terjadi, tubuh melepaskan zat kimia yang disebut sitokin. Sitokin ini berfungsi sebagai sinyal untuk mengaktifkan sistem kekebalan. Namun, beberapa sitokin juga memengaruhi pusat kontrol suhu di otak, yaitu hipotalamus. Hipotalamus kemudian meningkatkan suhu tubuh sebagai mekanisme pertahanan. Kenaikan suhu ini menciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi patogen seperti virus atau bakteri, sehingga sistem kekebalan bisa bekerja lebih efektif.
Nah, di malam hari, saat ritme sirkadian kita secara alami menurunkan suhu tubuh, sistem kekebalan justru bekerja lebih keras untuk melawan infeksi. Interaksi antara respons kekebalan yang intens dan fluktuasi alami suhu tubuh inilah yang membuat demam terasa lebih tinggi. Alih-alih menurunkan suhu seperti biasanya, tubuh justru meningkatkan suhunya secara signifikan, menyebabkan demam terasa memburuk.