Namun, menjaga ruang hijau bukan hanya tugas pemerintah. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penentu. Komunitas lingkungan di Bogor sebenarnya cukup aktif dalam gerakan penanaman pohon, urban farming, dan kampanye pengurangan sampah plastik. Sekolah-sekolah mulai menggalakkan program adiwiyata, dan sejumlah pengembang mulai menerapkan konsep hunian ramah lingkungan. Meski demikian, skala upaya ini masih perlu diperluas agar mampu mengimbangi laju pembangunan.
Urbanisasi memang tak terelakkan, tetapi arah dan kualitasnya bisa diatur. Pembangunan seharusnya tidak mengorbankan keseimbangan ekologis. Idealnya, setiap proyek pembangunan wajib menyisihkan persentase tertentu untuk ruang terbuka hijau publik. Revitalisasi taman kota, penghijauan bantaran sungai, serta perlindungan kawasan resapan air harus menjadi prioritas. Jika tidak, risiko bencana seperti banjir dan longsor akan semakin besar, terlebih Bogor memiliki topografi dan curah hujan tinggi.
Bogor berada di persimpangan jalan: menjadi kota modern yang padat, atau kota berkelanjutan yang tetap menjaga harmoni antara pembangunan dan alam. Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi mendatang. Ruang hijau bukan sekadar ornamen kota, melainkan fondasi ketahanan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
dinas lingkungan hidup memegang peran strategis dalam memastikan bahwa pembangunan di Bogor tidak melampaui daya dukung lingkungan. Dengan struktur organisasi yang terintegrasi, dukungan kebijakan berbasis data, serta kolaborasi bersama masyarakat, harapan untuk mempertahankan identitas Bogor sebagai kota yang hijau dan nyaman masih terbuka. Tantangannya besar, tetapi komitmen dan konsistensi dalam pengelolaan lingkungan akan menjadi kunci agar Kota Hujan tidak benar-benar kehilangan ruang hijaunya.