Bepergian ke luar negeri adalah impian banyak orang, terutama saat tujuannya adalah negara dengan empat musim yang menawarkan pengalaman berbeda. Bagi orang Indonesia, yang terbiasa hidup di iklim tropis dengan suhu relatif stabil sepanjang tahun, menghadapi perbedaan suhu yang ekstrem saat berkunjung ke negara lain seringkali menjadi tantangan tersendiri. Dari panas terik yang kering hingga dingin menusuk tulang, adaptasi menjadi kunci. Pertanyaannya, seberapa besar kejutan yang dirasakan dan bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap perubahan tersebut?
Terbiasa dengan Kelembapan dan Panas Tropis
Secara geografis, Indonesia terletak di garis khatulistiwa, membuat suhunya cenderung stabil di kisaran 25 hingga 32 derajat Celsius sepanjang tahun. Kelembapan udara yang tinggi juga menjadi ciri khas iklim tropis. Tubuh orang Indonesia sudah beradaptasi dengan kondisi ini. Kita terbiasa berkeringat untuk mendinginkan tubuh dan merasa nyaman di lingkungan yang lembap. Sistem termoregulasi tubuh kita bekerja optimal di suhu ini.
Ketika keluar dari zona nyaman iklim tropis, tubuh akan dipaksa beradaptasi dengan cepat. Kejutan terbesar biasanya datang saat musim dingin, di mana suhu bisa turun drastis hingga di bawah nol derajat Celsius. Sebaliknya, saat musim panas di negara-negara subtropis, suhu bisa lebih tinggi dari yang biasa kita rasakan, dengan kelembapan yang jauh lebih rendah, menciptakan sensasi panas yang kering dan menyengat. Perbedaan inilah yang bisa menimbulkan syok termal.
Reaksi Tubuh Menghadapi Perubahan Suhu Ekstrem