Saat tubuh terpapar suhu yang jauh berbeda, berbagai reaksi fisiologis akan terjadi. Saat suhu dingin, pembuluh darah di kulit akan menyempit (vasokonstriksi) untuk mengurangi aliran darah dan menjaga panas tubuh di organ-organ vital. Tubuh juga bisa menggigil untuk menghasilkan panas melalui kontraksi otot. Sensasi dingin yang menusuk, kedinginan di ujung jari tangan dan kaki, serta kulit yang memucat adalah hal umum. Bagi yang tidak terbiasa, respons ini bisa terasa sangat tidak nyaman, bahkan menyakitkan.
Sebaliknya, saat menghadapi suhu panas yang kering, tubuh akan berusaha mendinginkan diri dengan cara berbeda. Keringat akan lebih cepat menguap karena kelembapan rendah, yang membuat kita merasa lebih cepat haus dan berisiko dehidrasi. Panas yang kering juga bisa menyebabkan kulit menjadi kering, bibir pecah-pecah, dan iritasi pada selaput hidung. Kondisi ini bisa terasa sangat berbeda dari panas lembap yang biasa kita rasakan di Indonesia.
Persiapan yang Tepat sebagai Kunci Adaptasi
Untuk meminimalkan kejutan dan ketidaknyamanan, persiapan yang matang adalah segalanya. Pakaian menjadi faktor paling penting. Saat akan bepergian ke negara beriklim dingin, penerapan konsep berpakaian lapis (layering) sangat disarankan. Pakaian dasar dari bahan termal, lapisan tengah dari fleece atau wol, dan lapisan luar tahan air serta angin akan menjaga tubuh tetap hangat. Jangan lupakan aksesori seperti sarung tangan, syal, dan topi wol yang berfungsi melindungi bagian tubuh yang paling cepat kehilangan panas.