“Pemberitaan yang menyebut Jakarta sebagai kota dengan 42 juta penduduk bisa menimbulkan kesalahpahaman publik dan bahkan mempengaruhi persepsi investor,” tambahnya. Pemprov DKI menegaskan akan berkoordinasi dengan BPS dan pihak internasional untuk mengklarifikasi data ini agar publik tidak keliru.
Reaksi masyarakat terhadap kabar ini pun beragam. Di media sosial, warganet ramai-ramai menyoroti kondisi Jakarta yang memang padat, dengan kemacetan lalu lintas dan kepadatan hunian yang menjadi masalah nyata sehari-hari. Beberapa warganet berkomentar, “42 juta mungkin berlebihan secara resmi, tapi rasanya kita hidup di kota dengan penduduk sebanyak itu setiap hari,” tulis salah satu pengguna Twitter.
Para ahli tata kota menilai klaim PBB ini memiliki dasar, karena Jakarta memang menjadi magnet aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan, sehingga menarik arus manusia yang tinggi. Dr. Ahmad Rifai, pakar urbanisasi dari Universitas Indonesia, menilai, “Angka 42 juta itu kemungkinan adalah estimasi jumlah orang yang beraktivitas di Jakarta dalam sehari atau dalam sepekan. Jadi jangan heran kalau secara administrasi resmi jumlahnya jauh lebih kecil, tapi secara realitas sosial dan ekonomi, Jakarta memang terasa seperti kota superpadat.”
Kepadatan ini menimbulkan berbagai tantangan, termasuk infrastruktur transportasi yang terbatas, masalah banjir, polusi udara, dan tekanan pada fasilitas publik. Pemprov DKI pun tengah melakukan sejumlah program untuk mengatasi kepadatan, mulai dari pembangunan transportasi massal hingga kebijakan desentralisasi kegiatan ekonomi ke wilayah penyangga Jakarta.
Dalam laporan PBB, disebutkan bahwa angka kepadatan Jakarta meningkat drastis sejak 2010, ketika jumlah penduduk metropolitan Jakarta diperkirakan sekitar 28 juta. Pertumbuhan ekonomi, urbanisasi cepat, dan migrasi dari daerah lain menjadi faktor utama lonjakan ini. Laporan tersebut juga menyoroti tren global di mana kota-kota besar di Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan populasi yang lebih cepat dibandingkan wilayah lain di dunia.