Sebagai perbandingan, gempa bumi besar dengan magnitudo 9,0 yang terjadi pada tahun 2011 di lepas pantai timur laut Jepang, memicu tsunami besar yang menewaskan sekitar 18.500 orang dan menyebabkan bencana nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima. Tragedi ini menjadi salah satu bencana terbesar di Jepang setelah Perang Dunia II dan insiden nuklir paling serius sejak Chernobyl.
Sejarah menunjukkan bahwa Jepang sering kali menjadi sasaran gempa bumi dan tsunami. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meminimalkan dampak dari bencana alam tersebut. Namun, tingkat ancaman yang terus ada menuntut perhatian ekstra dari pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana tersebut di masa depan. Dengan adanya peringatan dari pemerintah terkait kemungkinan terjadinya gempa raksasa, upaya mitigasi dan persiapan darurat menjadi sangat penting.
Gempa bumi dan tsunami diketahui merupakan bencana alam yang dapat menimbulkan kerugian besar bagi manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dalam hal mitigasi bencana, pendidikan masyarakat tentang sikap yang tepat saat terjadinya gempa dan tsunami, serta perbaikan infrastuktur menjadi kunci dalam mengurangi dampak buruk dari bencana alam tersebut.
Pemerintah Jepang telah melakukan langkah-langkah yang signifikan dalam rangka mengurangi kerentanan terhadap gempa dan tsunami. Berbagai regulasi dan standar pembangunan dibuat untuk memastikan bangunan dan infrastruktur dapat bertahan dalam situasi gempa dan tsunami. Selain itu, sistem peringatan dini juga diperkuat guna memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat terkait potensi terjadinya gempa dan tsunami.