Cagar budaya memiliki peran penting dalam melestarikan identitas suatu daerah. Oleh karena itu, menjaga, merawat, dan memulihkan bangunan cagar budaya merupakan sebuah investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat bagi generasi-generasi mendatang.
Salah satu faktor yang membuat biaya restorasi cagar budaya menjadi tinggi adalah kebutuhan akan konservasi dan pemulihan nilai-nilai sejarahnya. Restorasi cagar budaya tidak semata-mata melibatkan perbaikan fisik bangunan, tetapi juga memerlukan penggunaan material dan teknik konservasi yang sesuai dengan karakteristik aslinya.
Selain itu, proses perizinan dan persetujuan dari pihak terkait juga memerlukan perhatian yang lebih intensif. Dalam hal ini, peran Badan Pelestarian Cagar Budaya dan Nilai Sejarah (BPCB) memiliki pengaruh besar dalam menentukan proses restorasi yang sesuai dengan pedoman konservasi cagar budaya.
Sebagai contoh, dalam restorasi bangunan cagar budaya, penggunaan bahan-bahan tertentu yang harus dipilih secara hati-hati karena harus sesuai dengan karakteristik asli bangunan. Selain itu, pengerjaan pun harus dilakukan dengan hati-hati agar nilai historis dan arsitekturalnya tetap terjaga.
Selain aspek teknis, biaya restorasi juga terkait dengan peran para ahli dan tenaga kerja yang terlibat dalam proyek tersebut. Idealnya, mereka harus memiliki keahlian khusus dalam bidang konservasi bangunan bersejarah serta memiliki pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai historis dan kultural yang terkandung di dalamnya.
Luar biasa jika melihat restorasi bangunan cagar budaya sebagai sebuah proses yang melibatkan banyak aspek yang kompleks. Namun, jika dilihat dari manfaat jangka panjangnya, investasi tersebut tidak hanya berdampak positif bagi aspek pelestarian sejarah, namun juga dapat menjadi daya tarik pariwisata lokal maupun internasional.