Dampak Ekonomi yang Tidak Menguntungkan
Meskipun DST awalnya diklaim untuk menghemat energi, banyak penelitian modern menunjukkan bahwa dampak ekonominya justru minimal atau bahkan merugikan. Di beberapa negara, DST justru bisa meningkatkan konsumsi energi. Sebagai contoh, saat jam dimajukan, orang mungkin menyalakan AC lebih lama di sore hari yang lebih terang dan panas, yang bisa mengimbangi penghematan dari pengurangan penggunaan lampu.
Selain itu, peralihan waktu dua kali setahun menciptakan disrupsi pada sistem transportasi, logistik, dan perdagangan. Maskapai penerbangan, perusahaan kereta api, dan jadwal pengiriman barang harus disesuaikan, yang bisa menimbulkan biaya operasional tambahan dan potensi kesalahan. Bagi negara-negara yang berdagang secara global, perbedaan zona waktu yang tidak konsisten bisa menjadi kendala, membuat perencanaan bisnis lintas batas menjadi lebih rumit.
Beberapa negara, seperti Rusia, telah mengadopsi DST dan kemudian meninggalkannya karena menyadari bahwa manfaat yang dijanjikan tidak terwujud. Di Amerika Serikat, studi menunjukkan bahwa perubahan waktu ini bisa menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar per tahun akibat hilangnya produktivitas dan biaya yang terkait dengan disrupsi.
Pertimbangan Kesehatan dan Kesejahteraan
Alasan penting lainnya yang mendorong penolakan DST adalah dampak negatifnya pada kesehatan manusia. Perubahan waktu, meskipun hanya satu jam, bisa mengganggu ritme sirkadian, yaitu jam biologis internal tubuh kita. Gangguan ritme ini bisa menyebabkan masalah tidur, peningkatan risiko serangan jantung, stroke, dan kecelakaan, terutama di minggu-minggu awal setelah perubahan waktu.