Bagi sebagian orang, terutama mereka yang sensitif terhadap perubahan jadwal, transisi ini bisa memicu kelelahan, sulit tidur, dan penurunan konsentrasi. Mengubah jadwal tidur secara tiba-tiba dianggap sama dengan mengalami jet lag. Meskipun efeknya mungkin tidak terlalu dramatis, akumulasi gangguan tidur dari waktu ke waktu bisa berdampak serius pada kesehatan jangka panjang. Beberapa negara dan wilayah di Amerika Serikat, seperti Arizona dan Hawaii, menolak DST karena masalah ini dan memilih untuk tetap berada di zona waktu yang sama sepanjang tahun.
Isu Sosial dan Budaya
Penolakan DST juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya. Di beberapa negara, seperti Turki, keputusan untuk mengakhiri DST diambil untuk menyelaraskan waktu dengan negara-negara Arab dan Timur Tengah lainnya, yang tidak mengadopsi DST. Ini mempermudah koordinasi ekonomi dan religius.
Selain itu, DST bisa menimbulkan kebingungan dan ketidaknyamanan bagi masyarakat umum. Banyak orang mengeluh harus menyesuaikan jadwal harian mereka, dari jadwal sekolah anak-anak hingga waktu ibadah. Bagi negara-negara yang sudah memiliki ritme harian yang stabil, menambahkan perubahan waktu dua kali setahun dianggap tidak perlu dan hanya menambah kerumitan hidup.