Mata uang di banyak negara Afrika seringkali memiliki nilai tukar yang rendah jika dibandingkan dengan mata uang global utama seperti dolar AS, euro, atau pound sterling. Ini adalah melainkan cerminan dari kompleksitas ekonomi, sejarah, dan politik yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Memahami mengapa mata uang seperti Dolar Zimbabwe, Naira Nigeria, atau Kwacha Zambia memiliki nilai yang relatif lemah memerlukan analisis mendalam terhadap berbagai faktor fundamental yang memengaruhi kesehatan ekonomi suatu negara.
Ketergantungan pada Komoditas
Salah satu faktor utama yang melemahkan mata uang di banyak negara Afrika adalah ketergantungan ekonomi yang sangat tinggi pada ekspor komoditas. Sebagian besar negara di benua ini mengandalkan pendapatan dari penjualan bahan mentah seperti minyak, mineral (emas, berlian, tembaga), atau produk pertanian (kakao, kopi). Masalahnya, harga komoditas sangat fluktuatif di pasar global.
Ketika harga komoditas naik, mata uang negara eksportir akan menguat. Namun, saat harga jatuh—seperti yang sering terjadi akibat perlambatan ekonomi global atau perubahan permintaan—nilai mata uang mereka akan anjlok. Ketidakstabilan ini membuat investor ragu-ragu, mengurangi aliran modal asing, dan melemahkan mata uang. Ekonomi yang terdiversifikasi, seperti yang dimiliki negara-negara maju, tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga satu atau dua komoditas saja.
Inflasi dan Ketidakstabilan Moneter
Inflasi adalah musuh utama mata uang. Di banyak negara Afrika, tingkat inflasi seringkali sangat tinggi, jauh melampaui pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti pencetakan uang secara berlebihan oleh bank sentral untuk menutupi defisit anggaran pemerintah. Kebijakan moneter yang longgar ini membanjiri pasar dengan uang, yang pada akhirnya menurunkan nilai mata uang itu sendiri.