Misalnya, Zimbabwe pernah mengalami hiperinflasi yang ekstrem di mana mata uangnya menjadi hampir tidak bernilai, memaksa pemerintah untuk mengadopsi mata uang asing. Meskipun kasusnya ekstrem, inflasi kronis adalah masalah umum. Ketika harga barang dan jasa terus naik tajam, daya beli mata uang lokal menurun, dan masyarakat serta investor akan beralih ke mata uang asing yang lebih stabil.
Utang dan Kurangnya Investasi Asing
Banyak negara di Afrika memiliki beban utang luar negeri yang sangat besar. Untuk membayar utang ini, mereka harus menggunakan devisa, biasanya dalam bentuk dolar AS. Permintaan tinggi terhadap dolar AS ini secara alami akan melemahkan mata uang lokal. Pembayaran utang juga menguras sumber daya yang seharusnya bisa digunakan untuk investasi produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan.
Selain itu, kurangnya investasi asing langsung (FDI) juga menjadi faktor. Investor asing seringkali menghindari berinvestasi di negara-negara yang dianggap memiliki risiko politik tinggi, korupsi yang meluas, atau sistem hukum yang tidak stabil. Tanpa aliran masuk modal asing yang kuat, permintaan terhadap mata uang lokal menjadi rendah, dan nilai tukarnya tidak bisa menguat secara signifikan.
Stabilitas Politik dan Tata Kelola yang Lemah
Stabilitas politik adalah prasyarat penting untuk kesehatan ekonomi. Sayangnya, banyak negara di Afrika mengalami ketidakstabilan politik seperti kudeta, konflik internal, atau transisi kekuasaan yang tidak mulus. Ketidakpastian politik ini membuat investor ketakutan dan seringkali menyebabkan capital flight, yaitu penarikan modal secara besar-besaran dari negara tersebut.
Selain itu, tata kelola yang lemah dan masalah korupsi juga sangat merugikan. Korupsi yang sistematis bisa mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan institusi keuangan. Dana publik yang seharusnya digunakan untuk pembangunan malah diselewengkan. Lingkungan yang tidak transparan dan tidak akuntabel ini menciptakan risiko besar bagi investor dan melemahkan fondasi ekonomi, yang pada akhirnya memengaruhi nilai mata uang.