Revolusi Teh: Dari Bangsawan ke Masyarakat Luas
Minum teh mulai menyebar ke masyarakat luas ketika harganya turun drastis di abad ke-18 dan ke-19. Perusahaan Hindia Timur Britania mulai mengimpor teh dalam jumlah besar dari Tiongkok dan kemudian mengembangkan perkebunan teh besar di India dan Ceylon (sekarang Sri Lanka) untuk memecahkan monopoli Tiongkok. Ketersediaan teh yang melimpah ini membuatnya lebih terjangkau oleh kelas menengah dan bawah.
Namun, faktor terpenting yang mengubah teh menjadi kebiasaan nasional adalah penciptaan tradisi Afternoon Tea oleh Anna Russell, Duchess of Bedford, pada tahun 1840-an. Di masa itu, makan siang para bangsawan sangat ringan, dan makan malam baru disajikan sangat larut, sekitar pukul 8 malam. Anna merasa lapar di sore hari, dan ia meminta pelayannya membawakan teh, roti, dan kue ke kamarnya. Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi ritual sosial di mana ia mengundang teman-teman untuk bergabung. Tradisi ini kemudian menyebar ke seluruh Inggris sebagai acara sosial yang sopan dan menyenangkan, yang diisi dengan percakapan, tawa, dan tentu saja, teh, scone, sandwich, dan kue.
Ritual dan Aturan Tak Tertulis dalam Tradisi Teh
Tradisi minum teh di Inggris berkembang menjadi ritual dengan aturan-aturan tak tertulis yang khas, terutama dalam acara formal. Misalnya, ada perdebatan abadi tentang urutan memasukkan susu dan teh ke dalam cangkir. Tradisi kuno mengajarkan untuk menuangkan susu terlebih dahulu, terutama jika menggunakan cangkir keramik tipis yang rentan retak karena suhu teh panas. Namun, banyak orang kini lebih memilih menuangkan teh terlebih dahulu untuk bisa mengatur seberapa banyak susu yang diinginkan.