Tradisi sungkeman di Indonesia sendiri memiliki akar yang dalam, mencerminkan kebiasaan yang berawal dari era kuno, terutama pada masa Kerajaan Hindu-Buddha yang terjadi ribuan tahun lalu. Pada masa itu, praktik ini dimulai sebagai simbol penghormatan kepada kaki para raja, yang dianggap memiliki kekuatan spiritual atau sakti. Kaki raja dianggap sebagai perwujudan Dewa Wisnu, sehingga mencium kaki raja menjadi tanda kebesaran dan kedewaan yang perlu dihormati.
Seiring dengan berjalannya waktu dan masuknya era Kerajaan Islam di Indonesia, makna di balik praktik mencium kaki ini mengalami perubahan. Meskipun bentuk dan cara pelaksanaannya tetap sama, kini mencium kaki orang tua tidak lagi dianggap sebagai penghormatan kepada sosok yang sakti, melainkan sebagai simbol penghormatan dan ungkapan terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang yang telah diberikan. Dalam hal ini, tradisi sungkeman berfungsi sebagai bentuk permohonan doa restu kepada orang tua, yang dianggap sebagai sumber berkah bagi kehidupan anak-anaknya.
Sementara Soeharto melaksanakan tradisi sungkeman di dalam keluarganya, banyak juga masyarakat umum yang mengikuti jejaknya. Hal ini bukan hanya sekadar mengikuti tradisi, tetapi sebagai momen refleksi akan nilai-nilai kekeluargaan dan penghormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di banyak daerah di Indonesia, sungkeman menjadi ritual penting yang menyatukan keluarga di saat perayaan Idul Fitri.
Momen sungkeman ini juga seringkali diisi dengan ungkapan rasa syukur atas segala berkah yang diterima selama setahun serta harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dalam konteks sosial, acara sungkeman dapat menjadi ajang untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga yang seringkali jarang berkumpul karena kesibukan masing-masing. Selain itu, sungkeman juga menjadi kesempatan bagi anak untuk menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang kepada orang tua serta mendapatkan doa dan restu mereka.