Kurangnya Literasi dan Pendidikan Keuangan
Literasi keuangan yang rendah menjadi hambatan utama lainnya. Di banyak tempat, pendidikan formal tidak banyak menyentuh topik pengelolaan keuangan pribadi secara mendalam. Banyak orang hanya tahu cara menabung, tapi tidak memahami strategi alokasi dana yang lebih kompleks. Konsep seperti diversifikasi, dana darurat, atau investasi seringkali terdengar asing dan rumit.
Akibatnya, prioritas keuangan menjadi salah kaprah. Gaji yang didapat sering kali habis untuk memenuhi keinginan gaya hidup, bukan kebutuhan esensial. Mereka yang tidak teredukasi cenderung menunda-nunda menabung dana darurat karena merasa pengeluaran konsumtif lebih mendesak atau memberikan kepuasan instan. Ini menciptakan mentalitas hand-to-mouth, di mana penghasilan habis dalam waktu cepat tanpa ada sisa untuk masa depan.
Rasa Aman Semu dan Optimisme Berlebihan
Manusia cenderung memiliki optimisme berlebihan. Banyak yang merasa yakin bahwa hal buruk tidak akan menimpa diri mereka. "Ah, saya kan sehat, tidak mungkin kena sakit berat," atau "Pekerjaan saya stabil, tidak mungkin di-PHK," adalah pemikiran umum yang menciptakan rasa aman semu. Mentalitas ini berbahaya karena menunda persiapan untuk kemungkinan terburuk.
Rasa aman semu ini diperkuat oleh keberadaan kartu kredit atau pinjaman online yang menawarkan kemudahan akses dana. Seseorang mungkin merasa bahwa jika ada kebutuhan mendesak, mereka bisa dengan mudah berutang. Sayangnya, pemikiran ini adalah jebakan. Menggunakan utang untuk menutupi kebutuhan darurat justru menambah beban finansial di masa depan, karena harus mengembalikan uang dengan bunga yang tinggi. Dana darurat justru berfungsi untuk menghindari jebakan utang ini.