Saat lepas teknologi, kita kembali kepada kearifan lokal yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Banyak dari praktik ini dapat memberikan kita pelajaran berharga tentang ketahanan hidup. Dengan memahami cara bertani yang lebih berkelanjutan, menjaga keberagaman hayati, serta menerapkan sistem barter, manusia dapat menemukan kembali cara-cara tradisional yang mengajarkan kita tentang arti kebersamaan dan keberlanjutan. Ini menjadi penting di tengah kesadaran global mengenai perubahan iklim dan ancaman terhadap lingkungan.
Namun, pergeseran ini tidak tanpa tantangan. Masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi terkadang mengalami kesulitan saat harus beradaptasi dengan kehidupan yang lebih sederhana. Mungkin akan timbul rasa kehilangan ketika harus meninggalkan kenyamanan yang ditawarkan oleh teknologi. Tidak jarang juga, pengurangan ketergantungan pada alat-alat modern dapat memunculkan rasa cemas. Apakah kita benar-benar bisa bertahan tanpa gadget yang menghubungkan kita dengan dunia luar?
Tradisi juga memiliki peran penting dalam transisi ini. Dalam banyak komunitas, tradisi mengajarkan bagaimana menghargai hubungan antara manusia dan alam. Melalui ritual, festival, dan upacara, kita diajarkan untuk menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Ketika teknologi dikesampingkan, nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi yang kuat bagi ketahanan hidup. Misalnya, kegiatan berkumpul dan berbagi cerita di malam hari menggantikan jam tayang televisi yang kini terasa semakin menjauhkan kita dari hubungan sosial yang nyata.