Untuk memenuhi permintaan yang menggiurkan ini, para pedagang di Kuwait tidak hanya mengandalkan produksi lokal. Mereka biasanya mendatangkan truffle dari berbagai negara, termasuk Arab Saudi, Irak, Suriah, Maroko, Aljazair, hingga Iran. Setiap negara penghasil truffle memiliki karakteristik dan rasanya sendiri-sendiri. Proses ini menunjukkan kecerdasan pasar dan adaptabilitas pedagang lokal untuk menghadirkan yang terbaik kepada pelanggan mereka.
Truffle sendiri dikenal dengan julukan "putri guntur", karena hanya dapat tumbuh subur setelah hujan lebat. Musim berburu truffle biasanya dimulai pada bulan Januari dan berlangsung hingga awal musim panas. Wilayah yang sering mengalami curah hujan yang tinggi adalah tempat yang ideal untuk menemukan jamur ini. Para pencari truffle biasanya melakukannya dengan hati-hati untuk menjaga kualitas dan keaslian jamur yang mereka ambil. Metode pencariannya pun unik, sering kali melibatkan anjing pelacak terlatih yang mampu mendeteksi aroma khas truffle yang terkubur di dalam tanah.
Bagi masyarakat Kuwait dan negara-negara Arab lainnya, kehadiran truffle dalam menu berbuka puasa tidak hanya sekadar tentang rasa, tetapi juga tentang tradisi dan kebersamaan. Ketika sekeluarga berkumpul di meja makan untuk berbagi hidangan istimewa yang mengandung truffle, momen tersebut menjadi lebih berharga. Dengan penaklukan rasa yang dihadirkan oleh truffle, setiap suapan bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga pengalaman berbagi cinta dan penghargaan terhadap budaya kuliner yang kaya.
Mencicipi hidangan dengan truffle merupakan cara bagi masyarakat Kuwait untuk menunjukkan penghormatan mereka terhadap kekayaan alam yang ada di sekitar. Truffle yang diburu dengan cermat adalah simbol dari upaya manusia untuk berinteraksi dengan alam dan menghargai keindahan yang dihasilkannya. Hidangan yang terbuat dari truffle sering kali dipadukan dengan bahan-bahan lokal lainnya, menciptakan harmoni rasa yang tidak hanya memanjakan lidah tetapi juga menambah keaslian masakan Kuwait.