Postur tubuh sering kali dianggap sepele. Banyak dari kita tidak sadar bagaimana kita duduk, berdiri, atau berjalan. Padahal, cara kita membawa diri bukan hanya soal estetika, tapi juga soal psikologis. Secara ilmiah, ada kaitan erat antara postur tubuh dan kepercayaan diri. Cara kita menempatkan tubuh bisa mengirimkan sinyal kuat ke otak, memengaruhi bagaimana kita merasakan diri sendiri dan bagaimana orang lain melihat kita. Ini bukan sekadar mitos, tapi sebuah fenomena yang berakar pada ilmu psikologi dan biologi.
Bahasa Tubuh yang Berbicara
Sebelum kata-kata terucap, tubuh kita sudah lebih dulu "berbicara". Bahasa tubuh yang terbuka dan kuat, seperti bahu yang tegak, dada membusung, dan pandangan lurus ke depan, secara universal diasosiasikan dengan kekuatan, dominasi, dan keyakinan. Sebaliknya, postur yang tertutup, seperti bahu membungkuk, kepala menunduk, dan lengan menyilang, sering kali diinterpretasikan sebagai tanda ketidakamanan, rasa takut, atau kurangnya kepercayaan diri.
Amy Cuddy, seorang psikolog sosial terkenal dari Harvard, menyebut konsep ini sebagai power pose. Melalui penelitiannya, dia menemukan bahwa mengadopsi postur tubuh yang berkuasa selama beberapa menit bisa mengubah kadar hormon dalam tubuh. Peningkatan kadar testosteron, hormon yang terkait dengan dominasi dan keberanian, serta penurunan kadar kortisol, hormon stres, terjadi pada orang-orang yang mengadopsi power pose. Jadi, bukan hanya kita terlihat percaya diri, tapi tubuh kita juga mulai memproduksi hormon yang mendukung perasaan tersebut.
Bagaimana Postur Memengaruhi Otak
Koneksi antara postur dan psikologi bekerja dua arah. Otak mengirimkan sinyal yang memengaruhi postur, tapi postur juga bisa mengirimkan sinyal balik ke otak. Saat kita membungkuk, otak kita bisa menafsirkan sinyal itu sebagai tanda kelemahan atau ketidaknyamanan. Responnya adalah dengan mengaktifkan sistem saraf yang terkait dengan stres dan kecemasan, yang pada gilirannya bisa mengurangi rasa percaya diri.