Peter Grant menambahkan bahwa ekspektasi pasar terhadap kebijakan hawkish The Fed masih menjadi tantangan utama bagi pergerakan komoditas ini. Menguatnya proyeksi bahwa The Fed masih akan mengerek suku bunga acuan menjaga posisi Dolar AS tetap perkasa, sementara imbal hasil obligasi AS bertahan di kisaran tinggi. Oleh karena itu, ruang penguatan untuk harga emas dalam jangka pendek diprediksi masih cenderung terbatas karena perhatian para pelaku pasar tertuju pada rilis indikator data ekonomi terkini.
Bayang-Bayang Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga The Fed
Secara teoritis dan historis, emas senantiasa diposisikan sebagai instrumen lindung nilai (hedging) paling efektif dalam menghadapi laju inflasi. Namun, dalam lanskap ekonomi saat ini, dinamika tersebut menjadi jauh lebih kompleks. Kenaikan harga energi yang berpotensi menyulut inflasi memicu kekhawatiran bahwa bank sentral akan mempertahankan rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama demi meredam gejolak harga.
Skenario suku bunga tinggi inilah yang justru memberikan dampak ganda terhadap pasar modal. Di satu sisi, penguatan Dolar AS membuat komoditas emas yang diperdagangkan dalam mata uang Paman Sam menjadi jauh lebih mahal bagi para pembeli non-Dolar. Di sisi lain, lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah memperbesar biaya peluang (opportunity cost) bagi investor yang memegang komoditas emas, mengingat logam mulia merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) seperti halnya surat utang atau obligasi.
Keyakinan pasar terhadap langkah agresif The Fed semakin terekam jelas dalam kalkulasi data CME FedWatch Tool. Data tersebut menunjukkan bahwa pasar saat ini memperhitungkan probabilitas hingga 70 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober mendatang. Bahkan, peluang kenaikan suku bunga pada bulan Desember diperkirakan telah menembus angka 95 persen.