Informasi datang dan pergi dalam hitungan detik. Kita bisa dengan mudah beralih dari satu video ke video lain, dari satu berita ke berita lain, hanya dengan satu usapan jari. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan baru, melainkan sebuah ekosistem yang telah membentuk apa yang disebut Short Attention Economy. Ini adalah sebuah sistem ekonomi di mana komoditas paling berharga bukanlah uang, melainkan perhatian kita, dan durasi perhatian itu semakin pendek dari hari ke hari.
Pergeseran Fokus dari Konten Panjang ke Konten Singkat
Sebelum era media sosial, perhatian kita bisa bertahan lebih lama. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku, menonton film di bioskop, atau menyimak siaran televisi. Namun, kedatangan platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts mengubah segalanya. Algoritma platform ini dirancang untuk terus menyajikan konten baru yang menarik, menciptakan siklus tanpa akhir yang membuat kita sulit berhenti. Otak kita dilatih untuk mencari dopamin instan dari setiap video 60 detik atau bahkan 15 detik yang kita tonton.
Pergeseran ini melahirkan sebuah tren di mana para pembuat konten dan pemasar harus beradaptasi. Mereka tidak lagi bisa mengandalkan narasi panjang untuk menyampaikan pesan. Sebaliknya, mereka harus bisa merangkum ide-ide kompleks menjadi format yang ringkas, menarik, dan langsung pada intinya. Jika sebuah konten gagal menarik perhatian dalam tiga detik pertama, kemungkinan besar ia akan diabaikan. Inilah esensi dari Short Attention Economy—semua berebut untuk mendapatkan sedikit waktu dan fokus dari audiens yang mudah teralihkan.