Selain itu, kebiasaan sebelum tidur juga turut andil dalam memicu overthinking. Banyak orang terbiasa menggunakan gadget, seperti ponsel atau tablet, sebelum tidur. Paparan cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur. Ini dapat menyebabkan kesulitan dalam merelaksasi pikiran sekaligus menambah beban mental. Dalam keadaan terjaga, kita cenderung lebih rentan untuk merenungkan kekhawatiran, masalah, atau rencana yang harus dilakukan keesokan harinya. Kebiasaan ini jelas dapat memperburuk gangguan tidur yang sudah ada, menjadikan malam sebagai waktu yang mencekam ketimbang menenangkan.
Seiring waktu, overthinking malam dapat menjadi pola yang sulit dipecahkan. Ketika kita merasa terjebak dalam siklus ini, kita mungkin mulai meragukan kemampuan kita untuk berfungsi dengan baik di siang hari. Kesehatan mental kita terganggu, dan peningkatan konsumsi stimulan seperti kafein atau gula untuk menangkal rasa lelah menjadi hal yang umum. Sayangnya, ini akan menciptakan lingkaran setan yang semakin memperburuk kondisi kesehatan mental dan fisik kita.
Selanjutnya, penting untuk menyadari bahwa overthinking malam bukanlah masalah yang dialami sendirian. Banyak orang lain yang mengalami hal serupa. Memahami apa yang menyebabkan kita terjebak dalam siklus tersebut, seperti stres, kebiasaan buruk menjelang tidur, dan kondisi kesehatan mental, merupakan langkah pertama yang penting. Meskipun ini adalah langkah yang sulit, namun dengan mengenali penyebabnya, kita dapat menemukan cara untuk menangani dan meredakan overthinking malam yang mengganggu.