Tutup Iklan
Tryout.id
  
login Register
Serial Ilmuwan Muslim II: Al Battani, Bapak Trigonometri dan Astronom Hebat

Serial Ilmuwan Muslim II: Al Battani, Bapak Trigonometri dan Astronom Hebat

30 Juli 2017 | Dibaca : 3489x | Penulis : Zeal

Riwayat Hidup Al Battani

Nama lengkap al-Battani adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan Al-Battani al-Harrani. Di Eropa, ia dikenal dengan sebutan Albategnius atau al-Batenus. Ia lahir pada tahun 858 M di daerah Battan, Harran, yang terletak di Barat Daya Irak. Cucu dari ilmuwan Arab terkemuka, Tsabit bin Qurah, yang dikenal sebagai ahli astroomi dan matematika terbesar di dunia pada abad pertengahan ini wafat pada tahun 317 H (929 M).

Awalnya, al-Battani hidup di kalangan komunitas Sekte Sabian, sebuah sekte pemuja bintang yang religius dari Harran yang memiliki motivasi kuat untuk mempelajari ilmu perbintangan. Sekte Sabian ini banyak menghasilkan para ahli matematika dan ahli falak terkemuka seperti Thabit bin Qurrah. Namun meski demikian, al-Battani bukanlah seorang Sabian, mengingat bahwa nama yang melekat pada dirinya menunjukkan bahwa ia adalah seorang Muslim.

Kepakaran dan popularitas yang diraih al-Battani sebagai ahli astronomi dan matematika terbesar di dunia pada abad pertengahan kiranya tak bisa dilepaskan dari latar belakang keluarganya yang memiliki darah ilmuwan. Ayahnya yang bernama Jabir ibn Sinan dan merupakan seorang pakar sains terkenal telah mengarahkan putranya untuk menekuni dunia pengetahuan sejak kecil. Kepada ayahnyalah al-Battani belajar astronomi dan matematika. Memasuki masa remaja, al-Battani berhijrah ke Raqqa yang terletak di tepi sungai Eufrat untuk menekuni bidang sains. Di kota inilah al-Battani melakukan berbagai penelitian hingga menemukan beragam penemuan cemerlangnya. Kala itu, Raqqa menjadi terkenal dan mencapai kemakmuran karena khalifah Harun al-Rasyid, khalifah kelima dalam dinasti Abbasiyah, membangun sejumlah istana di kota tersebut pada 14 September 786 sebagai salah satu bentuk penghargaan atas sejumlah penemuan yang dihasilkan oleh penelitian yang dilakukan al-Battani. Usai pembangunan sejumlah istana di Raqqa, kota ini pun menjadi pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan perniagaan.

Ali bin Isa Al-Asthurlabi atau Yahya bin Abu Manshur yang merupakan dua ilmuwan terkemuka dalam bidang astronomi yang hidup pada masa al-Battani bisa jadi—meski tidak ada data yang pasti akan hal ini—merupakan guru astronomi dari al-Battani selain dari ayahnya. Namun yang jelas, al-Battani telah menguasai berbagai buku astronomi yang banyak beredar pada masanya, terutama buku Almagest karya Ptolemaeus.

Ibnu an-Nadim dalam Al-Fihrist menyebutkan bahwa al-Battani memulai perjalannya mengamati masalah-masalah astronomi sejak tahun 264 H (878). Dengan pendapat ini benar, berarti al-Battani pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama di kota Raqqa dan melakukan penelitian astronomi yang berhasil ditemukannya pada tahun 306 H (918 M). Selain itu, al-Battani juga pernah tinggal lama di kota Anthakiyyah di utara Syria, tempat dia membuat teropong bintang yang disebut dengan "Teropong Al-Battani." Secara umum, masa di mana al-Battani hidup adalah masa kejayaan ilmu astronomi Arab dan masa ditemukannya berbagai penemuan ilmiah di Arab dalam bidang ini.

Karya Al Battani

Sebagai seorang pakar dalam bidang astronomi, al-Battani juga telah mengarang banyak buku yang berisi tentang hasil pengamatan bintang-bintang, perbandingan antara berbagai kalender yang digunakan di berbagai suku bangsa (Hijriyah, Persia, Masehi, dan Qibti), dan berbagai peralatan yang digunakannya dalam mengamati bintang-bintang serta cara membuatnya. Di antara buku-buku karangannya yang paling terkenal adalah Zij Ash-Shabi’ atau Zij al-Battani (buku ini terdiri dari pengantar dan lima puluh tujuh pasal yang kebanyakan isinya berasal dari pengalamannnya mengamati bintang-bintang serta pemikiran dan teorinya dalam ilmu astronomi).

Dalam pengantar kitab ini, al-Battani berkata, "Ilmu yang paling mulia kedudukannya adalah ilmu perbintangan. Sebab, dengan ilmu itu dapat diketahui lama bulan dan tahun, waktu, musim, pertambahan, dan pengurangan siang dan malam, letak matahari dan bulan erta gerhananya, serta jalannya planet ketika berangkat dan kembali."

Selain Zij ash-Shabi’, karya al-Battani yang lainnya dalam bidang astronomi adalah Risalah fi Tahqiqi Aqdari Al-Ittishalat, Ma'rifati Mathali' al-Buruj fi ma Baina Arba' al-Falak, Ta'dil al-Kawakib, Syarh Arba' Maqalat li Bathlimus, dan Kutub wa Rasa'il fi Ilmi Al-Jughrafiya.

Pada masanya, al-Battani adalah satu-satunya ahli astronomi yang mampu menggambarkan ukuran bulan dan matahari secara akurat. Al-Battani dianggap sebagai guru, terutama bagi orang-orang Eropa, karena ia banyak mengenalkan terminologi astronomi yang berasal dari bahasa Arab, seperti azimuth, zenith, dan nadir. Ia adalah penerus al-Farghani.

Karya al-Battani yang sangat berpengaruh adalah Kitab Ma’rifat Matali al-Buruj fi ma Bayna Arba al-Falak, sebuah buku ilmu pengetahuan tentang zodiak dan pemecahan soal-soal astrologi. Selain itu, dikenal pula Risalah fi Tahkik Akdar al-Ittisalat, yaitu sebuah uraian mengenai sejumlah penemuan dan penerapan astrologi. Karya al-Battani lainnya adalah az-Zaujush li Battani (Almanak Versi al-Battani). Buku ini memuat enam puluh tema, seperti pembagian planet, lingkaran kecil yang mengitari lingkaran besar, garis orbit, dan sirkulasi peredaran planet. Di kemudian hari, buku ini disunting oleh Carlo Nallino dan disimpan di Perpustakaan Oskorial, Spanyol. Salah satu buku astronomi karya al-Battani yang juga terkenal adalah Kitab al-Zij. Pada abad XII, buku ini diterjemahkan dalam bahasa Latin dengan judul De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerum et Motibus oleh Plato dari Tivoli. Terjemahan tertua dari karya tersebut masih tersimpan di Vatikan.

 

Al-Battani dikenal sebagai seorang ilmuwan dalam bidang astronomi yang diklaim berjasa menemukan hitungan jumlah hari dalam setahun (dalam tahun masehi) berdasarkan penghitungan waktu yang digunakan bumi untuk mengelilingi matahari, yakni 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Almanak yang diciptakan oleh al-Battani diakui merupakan sistem perhitungan astronomi yang paling akurat, yang sampai kepada kita sejak abad pertengahan. Bahkan pada abad pertengahan, orang-orang Eropa menggunakan sistem ini sampai abad pencerahan.

Selain almanak, al-Battani juga berhasil memperbaiki nilai keseimbangan pada musim panas dan musim dingin dan berhasil menghitung nilai kecondongan bintang-bintang di siang hari dan mendapatkannya berada pada posisi 23 dan 35 derajat.

Persamaan Trigonometri al-Battani

Sementara dalam bidang matematika (trigonometri, aljabar, geometri) dan geografi, al-Battani dianggap sebagai orang yang pertama kali mengganti kata "ganjil" yang dipakai oleh Ptolemaeus dalam sinus trigonometri dan orang pertama yang menghitung tabel matematika untuk mengetahui titik pada garis yang bengkok. Selain itu, al-Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri dan memecahkan persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumus:


 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Bendera Indonesia Terbalik, Panitia SEA Games 2017 Minta Maaf
21 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Setelah menuai banjir kritik, kecaman dan hujatan di media sosial, Malaysia akhirnya meminta maaf kepada masyarakat Indonesia terkait insiden terbaliknya ...
Cara Alami yang Lebih Efektif Mengatasi Kulit Kering
29 Juni 2018, by oteli w
Tak peduli apapun jenis kulitnya, semua orang bisa memiliki kulit kering sesekali sepanjang hidupnya. Kulit kering akan sulit untuk disembunyikan, terutama di ...
Peneliti Temukan Molekul Pencegah Tumor Otak
18 Agustus 2017, by Rindang Riyanti
Peneliti dari University of Portsmouth's Brain Tumour Research Centre of Excellence telah mengidentifikasi molekul yang bertanggung jawab atas sel kanker ...
Jago PDIP di Pilkada Jatim Ternyata bukan Risma
8 Juni 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Sosok Walikota Surabaya Tri Rismaharini digadang-gadang menjadi calon kuat dalam Pilkada Jatim tahun 2018. Tetapi ternyata Risma membantah semua ...
Anies dan JK Kerap Satu Mobil, Hari Ini Keduanya Kembali Terlihat Turun dari Mobil yang Sama, Apa Artinya?
4 Juli 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Pilkada serentak 2018 telah berlalu, dan suhu politik Indonesia tidak berhenti begitu saja. Karena masih ada pemilu 2019 selain pemilu  serentak juga ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
glowhite