Tutup Iklan
hijab
  
login Register
penista agama

Menghitung Korban “Pertempuran” Pilkada DKI

22 April 2017 | Dibaca : 10357x | Penulis : Tonton Taufik

Oleh: Asyari Usman (Mantan Wartawan Senior BBC)

Ibarat medan perang, pilkada DKI membawa korban cukup banyak di level komandan penting. Bersamaan dengan tersungkurnya Ahok dalam duel dengan Anies Baswedan, banyak pula korban lain yang berjatuhan. Mereka adalah komandan-komandan batalion pasukan Ahok.

Para komandan itu mengalami luka berat atau luka ringan, dan ada yang mengalami kondisi kritis. Mereka babak-belur setelah Ahok, “putra mahkota” yang mereka jagokan untuk terus menduduki “kerajaan Betawi”, kalah telak di tangan Anies.

Dari sekian banyak komandan koalisi pro-Ahok yang berada dalam kondisi kritis, diantaranya adalah kedua ketua umum PPP yang sedang berkonflik, yaitu Muhammad “Romi” Romahurmuziy dan Djan Faridz. Kedua pembesar PPP ini ditemukan dalam kondisi luka parah. Romi dan Djan memperkuat barisan Ahok dalam pertempuran pilkada Jakarta.

Romi dan Djan diperkirakan sulit untuk diselamatkan karena luka mereka sangat parah. Mereka tidak bisa ditolong untuk bertahan hidup di PPP. Sebab, kedua orang ini pergi memperkuat kubu Ahok tanpa restu dari rakyat PPP. Sekarang, PPP akan segera mencari pengganti Romi dan Djan. Kabarnya, Abraham Lunggana yang akrab dipanggil Haji Lulung diperkirakan naik menggantikan kedua koleganya yang sekarang tergeletak.
Korban luka parah lainnya adalah Setya Novanto, ketua umum Golkar. Selain nyaris lumpuh akibat ditabrak truk e-KTP yang dikemudikan Andi Narogong, keikutsertaan Setnov mendukung Ahok dalam pertempuran Ibukota membuat dia juga cedera berat. Banyak rakyat Golkar yang tidak setuju Setnov membawa partai itu memperkuat Ahok.

Diperkirakan, Setnov pun tidak dapat diselamatkan untuk bertahan hidup di kerajaan Golkar. Kondisi dia sudah parah, sekarat. Para ahli warisnya di Golkar mulai menunjukkan kesiapan mereka untuk mencari pengganti Setnov.

Para korban luka yang tidak begitu berat antara lain adalah Nusron Purnomo yang lebih senang dipanggil Nusron “Wahid”. Tetapi, beliau ini kelihatannya akan memerlukan konsultasi psikologis karena sangat terpukul dengan kekalahan Ahok. Nusron adalah orang dekat Ahok yang terkenal dengan “mata melototnya menghardik ulama” ketika berbicara di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVOne.
Komandan penting lainnya yang ikut cedera bersama kekalahan Ahok adalah Surya Paloh, ketua umum Partai NasDem. Tokoh Aceh asal ini jelas sangat kecewa atas kekalahan Ahok. Paloh memberikan dukungan habis-habisan kepada Ahok.

Tokoh spiritual Ahok, Ahmad Syafii Maarif, juga ikut terluka walaupun hanya cedera perasaan. Dia sangat mendambakan kemenangan Ahok. Saking kuat dan khusuknya menyokong Ahok, bekas pemimpin tertinggi Muhammadiyah ini sampai-sampai rela berhadapan dengan kaumnya sendiri demi kemenangan petahana.
Salah seorang komandan senior di koalisi Bu Mega untuk Ahok adalah Luhut Binsar Panjaitan. Di dalam pertempuran pilkada DKI, Luhut terbilang mengalami luka berat yang bakal sulit disembuhkan, tetapi dia sangat paham cara mengobatinya. Luhut sangat kecewa. Beliau inilah yang melakukan lobi ke segala arah untuk menggolkan Ahok menjadi gubernur DKI. Luhutlah yang bertugas untuk menepu-nepuk bahu para pimpinan parpol supaya ikut kaoalisi Bu Mega untuk memenangkan Ahok. Upaya Luhut untuk Ahok tidak ada duanya, kata banyak orang.

Wiranto, Menko Polhukam, ikut terkena sabetan pasukan Anies. Mantan jenderal ini menyerahkan partai Hanura ke koalisi Bu Mega untuk memperkuat kubu Ahok. Tetapi kelihatannya Wiranto hanya mengalami luka ringan sebab dia sejak awal tidak begitu serius mendukung Ahok; hanya bentuk solidaritas saja sekadar menyenangkan Presiden Jokowi yang mengangkatnya menjadi menko.

Ruhut Sitompul, salah seorang “penghalau embun” Ahok, juga mengalami luka dalam Pertempuan Jakarta tetapi tidak begitu parah. Mantan anggota DPR Partai Demokrat yang terkenal suka loncat ke mana-mana untuk bisa bertahan hidup, diperkirakan akan kasak-kusuk mencari tempat loncatan baru.

Sebagi penutup, korban perasaan yang paling besar tentunya dialami oleh Ibu Megawati yang telah bersusah payah mengasuh dan membesarkan “putra mahkota”. Beliau pasti sangat terpukul dan sekarang kelelahan.
 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Kawasan Gang Dolly Sambut Ramadhan dengan Sholawat
25 Mei 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Pemandangan yang mengharukan terlihat di Gang Dolly, sebuah kawasan yang dulunya menjadi pusat lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara, malam ini ...
Orang Tegal : Ora Ngapak Ora Kepenak! Sung?
3 Agustus 2017, by Indah Nur Etika
Akhir-akhir ini saya sering mendengar orang-orang berbicara mengenai slogan yang artinya "tidak ngapak, tidak enak." tersebut. Baik kawan-kawan saya ...
Menjadi Ibu di Usia 35 ke Atas? Siapa Takut, Inilah Keuntungannya!
23 April 2018, by Slesta
Tampang.com – Kehamilan pada usia 30 –an memang memiliki resiko yang cukup tinggi khususnya bagi kesehatan bayi yang dikandungnya. Namun , ...
8 Bahasa Tubuh Ini Memiliki Arti yang Berbeda
12 September 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Gerakan tubuh ternyata menyimpan informasi luar biasa mengenai apa yang kita pikirkan. Asalkan, kita mengetahui bagaimana cara ...
KPK Mengingatkan Segera Ada Pembenahan Serius Terhadap Lapas
25 Juli 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Sepertinya korupsi di Indonesia telah menjadi sebuah kebudayaan buruk yang susah dibasmi. Bagaimana tidak, kian tegasnya pemerintah mengatasi kegiatan korupsi, ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab