Tutup Iklan
JasaReview
  
login Register
Beberapa Perusahaan Emiten Yang Untung dan Rugi Akibat Koreksi Minyak

Beberapa Perusahaan Emiten Yang Untung dan Rugi Akibat Koreksi Minyak

8 Juli 2017 | Dibaca : 486x | Penulis : Alfi Wahyu Prasetyo

Harga minyak mentah di pasar global bergerak melemah. Sejak awal tahun hingga kemarin (ytd), harga minyak WTI untuk kontrak pengiriman Agustus di New York Merchantile Exchange sudah menyusut 19% menjadi US$ 45,86 per barel.

Tren koreksi harga minyak turut membayangi kinerja emiten berbasis komoditas di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan ini.

Salah satu emiten yang terimbas pergerakan harga minyak adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Selama sepekan terakhir, harga saham emiten ini menyusut 1,31%. Namun, sejak awal tahun, harga MEDC sudah menanjak 71,21% (ytd).

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menyarankan investor menjauhi dulu saham MEDC dan PT Elnusa Tbk (ELSA). "Sebaiknya wait and see di bulan ini," ungkap dia kepada KONTAN, Kamis (6/7).

Namun, Kevin melihat prospek MEDC lebih menarik dibandingkan emiten sejenis. Pasalnya, MEDC telah mendiversifikasi bisnisnya, yakni ke pertambangan emas dan tembaga, setelah mengakuisisi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan menilai, kenaikan harga minyak tahun ini sulit diprediksi. Ada kecenderungan harga sulit menyentuh US$ 60 per barel. "Saya perkirakan level minimum harga minyak US$ 40 per barel," kata dia.

Selain MEDC, ada emiten yang terkena imbas koreksi harga minyak. Misalnya perusahaan pelayaran seperti PT Soechi Lines Tbk (SOCI) dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS), maupun perusahaan penunjang migas seperti ELSA. "Seberapa besar efeknya terhadap emiten pelayaran, ini tergantung seberapa lama harga minyak menurun," ujar Andy.

Kevin belum melihat sinyal OPEC akan menurunkan produksi minyak. Beberapa negara anggota OPEC masih enggan mengurangi produksi minyak karena akan mengurangi penjualan ekspornya.

Penurunan harga minyak tak selalu negatif. Penurunan harga minyak juga membawa berkah bagi sejumlah emiten. Misalnya PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang memiliki biaya transportasi besar, maupun PT Blue Bird Tbk (BIRD).

Meski mendapatkan sentimen positif dari penyusutan harga minyak, Kevin tidak merekomendasikan investor masuk sektor tersebut. Investor perlu mempertimbangkan faktor fundamental emiten. "GIAA misalnya, laporan keuangannya masih jelek," ungkap dia.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Kunjungan Presiden Jokowi ke Afghanistan Cukup Menegangkan
30 Januari 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Presiden Joko Widodo melakukan perjalanan kunjungan untuk keliling Asia Selatan pada tanggal 29 Januari 2018 kemarin. Adapun negara-negara yang dikunjungi oleh ...
Babak Pertama : Tendangan Mendatar Da Silva Ciptakan Gol Pertama Persija Ke Gawang Boneo FC
14 April 2018, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com - Laga Gojek Liga 1 mempertemukan Persija Jakarta dengan tamunya Borneo FC, Sabtu (14/04) di Stadion Utama Gelora Bung Karno ( SUGBK ). Menit awal ...
UGM Akan Bangun Pabrik Coklat di Batang
10 Agustus 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berencana akan membangun pabrik coklat. Pabrik tersebut akan berada di Kabupaten Batang, Jawa Tengah ...
Jangan Diabaikan, Sakit Gigi Bisa Jadi Awal 5 Penyakit Ini
10 Februari 2018, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Sakit gigi adalah salah satu penyakit yang mengganggu dan cukup menyiksa diri. Bahkan, ketika kita sedang sakit gigi, kita akan lebih sensitif ...
Benarkah Prabowo Terlibat Saracen?
5 September 2017, by Gatot Swandito
“Dulu saat pilpres 2014 banyak akun Facebook yang menghina Islam dan Pak Prabowo. Kami simpatisan Pak Prabowo. Saya membajak akun yang sudah kelewatan ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab