Tutup Iklan
Tryout.id
  
login Register
Beberapa Perusahaan Emiten Yang Untung dan Rugi Akibat Koreksi Minyak

Beberapa Perusahaan Emiten Yang Untung dan Rugi Akibat Koreksi Minyak

8 Juli 2017 | Dibaca : 572x | Penulis : Alfi Wahyu Prasetyo

Harga minyak mentah di pasar global bergerak melemah. Sejak awal tahun hingga kemarin (ytd), harga minyak WTI untuk kontrak pengiriman Agustus di New York Merchantile Exchange sudah menyusut 19% menjadi US$ 45,86 per barel.

Tren koreksi harga minyak turut membayangi kinerja emiten berbasis komoditas di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir pekan ini.

Salah satu emiten yang terimbas pergerakan harga minyak adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Selama sepekan terakhir, harga saham emiten ini menyusut 1,31%. Namun, sejak awal tahun, harga MEDC sudah menanjak 71,21% (ytd).

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menyarankan investor menjauhi dulu saham MEDC dan PT Elnusa Tbk (ELSA). "Sebaiknya wait and see di bulan ini," ungkap dia kepada KONTAN, Kamis (6/7).

Namun, Kevin melihat prospek MEDC lebih menarik dibandingkan emiten sejenis. Pasalnya, MEDC telah mendiversifikasi bisnisnya, yakni ke pertambangan emas dan tembaga, setelah mengakuisisi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan menilai, kenaikan harga minyak tahun ini sulit diprediksi. Ada kecenderungan harga sulit menyentuh US$ 60 per barel. "Saya perkirakan level minimum harga minyak US$ 40 per barel," kata dia.

Selain MEDC, ada emiten yang terkena imbas koreksi harga minyak. Misalnya perusahaan pelayaran seperti PT Soechi Lines Tbk (SOCI) dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS), maupun perusahaan penunjang migas seperti ELSA. "Seberapa besar efeknya terhadap emiten pelayaran, ini tergantung seberapa lama harga minyak menurun," ujar Andy.

Kevin belum melihat sinyal OPEC akan menurunkan produksi minyak. Beberapa negara anggota OPEC masih enggan mengurangi produksi minyak karena akan mengurangi penjualan ekspornya.

Penurunan harga minyak tak selalu negatif. Penurunan harga minyak juga membawa berkah bagi sejumlah emiten. Misalnya PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang memiliki biaya transportasi besar, maupun PT Blue Bird Tbk (BIRD).

Meski mendapatkan sentimen positif dari penyusutan harga minyak, Kevin tidak merekomendasikan investor masuk sektor tersebut. Investor perlu mempertimbangkan faktor fundamental emiten. "GIAA misalnya, laporan keuangannya masih jelek," ungkap dia.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Suami Ke-3 Minggat, Muzdalifah Bakal jadi Janda lagi
3 Juli 2017, by Rahmat Zaenudin
Tampang.com- Janda kaya, Muzdalifah mengakhiri status jandanya dengan seorang pria bernama Kharil Anwar dan meresmikan pernikahan mereka pada tanggal 22 Mei ...
ponsel
21 Juli 2017, by Gatot Swandito
Saya menangkap ada banyak teman yang mengeluhkan licinya layar sentuh yang membuatnya susah untuk mengetik. Gegara keluhan teman-teman tersebut saya ...
Inilah Jebakan Bagi Anda yang Ingin Mulai Berbisnis
13 Juli 2018, by Slesta
Tampang.com – Bagi Anda yang berkeinginan membuka bisnis pada usia saat ini, Anda tentu harus mampu untuk mempersiapkan banyak hal. Selain modal uang dan ...
Remaja India Bunuh Diri Akibat Ikut Tantangan Game Online
17 Agustus 2017, by Ghilman Azka Fauzan
Tampang.com - Seorang pemuda di Anandpur, India ditemukan tewas dengan tubuh dibungkus plastik di kamar mandi rumahnya. Keluarga curiga, anak yang bernama ...
daniel rosyid
9 Mei 2017, by Tonton Taufik
"KAMPUS dan RADIKALISME", Tanggapan Menohok Guru Besar ITS Atas Tulisan KOMPAS Kampus dan Radikalisme Oleh: Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab