Ali sebelumnya dikenal sebagai pahlawan muda yang setia kepada organisasinya, M.A.T.A., yang dipersenjatai teknologi canggih bernama I.R.I.S.. Namun di film ini, kepercayaan Ali mulai goyah ketika ia menyadari bahwa teknologi yang ia andalkan memiliki keterkaitan dengan sejarah panjang penindasan dan ketidakadilan sosial di Cyberaya.
Konflik batin Ali memperkuat cerita karena ia tidak hanya bertarung dengan Niki atau pihak lawan, tetapi juga berjuang dengan nilai-nilai kepercayaannya sendiri. Ia dipaksa mempertanyakan: apakah menjadi agen berarti terus patuh pada sistem yang mungkin tak sepenuhnya adil atau berani menentang arus demi kebenaran yang lebih besar?
Karakter ini menghadirkan sudut pandang yang lebih dewasa dibandingkan banyak film animasi lain yang biasanya hanya menampilkan pahlawan dan penjahat tanpa nuansa moral yang kompleks.
Niki: Villain yang Bukan Sekadar Jahat
Berbeda dengan karakter antagonis stereotip, Niki dirancang sebagai karakter dengan motif kuat dan realistis. Ia bukan penjahat sepenuhnya; tujuan dan perjuangannya bagi banyak orang di Pinggiran terkesan logis dan berakar pada ketidakadilan nyata.
Karena latar belakangnya itulah, banyak penonton mungkin merasa simpati terhadap Niki meskipun metode yang ia gunakan terkadang ekstrem. Pendekatan ini membuat film tidak hanya menampilkan aksi dan visual menarik, tetapi juga menimbulkan perdebatan tentang apa arti “keadilan” apakah mencakup pengakuan terhadap hak orang banyak atau sekadar mempertahankan status quo demi stabilitas?
Detail Dunia Cyberaya: Inspirasi dan Referensi Nyata
Film ini tak sekadar menghibur lewat cerita dan karakter saja. Tim produksi disebutkan melakukan riset mendalam untuk menciptakan dunia Cyberaya yang terasa urat nadi kehidupan modern namun tak luput dari ketimpangan sosial. Nama “Cyberaya” sendiri terinspirasi dari gabungan kata Cyber dan Putrajaya/Cyberjaya, yang dikenal sebagai pusat teknologi di Malaysia sebuah metafora yang kuat tentang kontras antara kemajuan dan ketertinggalan.