Tampang

Soal Patung Kongco, Pemerintah Jokowi Kurang Sensitif

15 Agu 2017 16:06 wib. 2.482
0 0
Soal Patung Kongco, Pemerintah Jokowi Kurang Sensitif

Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki menyoroti terjadinya perubahan nilai di masyarakat Indonesia. Soal toleransi dan menghormati perbedaan, misalnya.

"Banyak hal-hal yang dulu tidak jadi masalah, kita rukun-rukun saja, duduk bersama dalam perbedaan, dalam kehidupan sehari-hari berbeda dalam politik dan kehidupan bernegara, kok ini sekarang menjadi masalah," ujar Teten di Jakarta, Rabu (9/8/2017).

"Ini suatu fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi bahwa memang terjadi perubahan nilai di masyarakat," lanjut dia.

Pertanyaannya, siapa yang bermasalah menurut konstitusi, kelompok penentang patung Kongco ataukah kelompok pendukung patung Kongco yang belum menyelesaikan izinnya.

Jika melihat dari awal pendirian patung ini yang tanpa izin, setidaknya belum menyelesaikan proses perizinan, seharusnya pemerintah mengembalikan persoalan ini ke ranah hukum. Karena itulah, jika saja pemerintah pusat mau melihat kasus ini dari sisi hukum, maka polemik soal patung Kongco tidak akan terjadi.

Celakanya, pemerintah seperti kehilangan arah. Bahkan terkesan memandang sebelah mata persoalan patung Kongco hanya dari kacamata keagamaan. Akibatnya, masalah ini justru semakin berkembang liar.

Pemerintah, khususnya Badan Intelijen Negara, tidak semestinya menyepelekan persoalan ini. Hal ini mengingat semakin berkembangnya semangat anti-China di sejumlah negara pascaditangkapnya Sheri Yan, mata-mata China untuk Australia oleh FBI di Amerika beberapa bulan yang lalu.

Semangat anti-China ini terbaca dari beredarnya sejumlah poster anti-China di sejumlah universitas ternama di Australia pada pertengahan Juli 2017 lalu.

Selain itu, belakangan ini kelompok ultranasionalis neo-Nazi pun semakin meningkatkan propaganda anti-China yang disebarluaskan lewat media sosial, khususnya Twitter.

Karenanya dalam menyelesaikan polemik patung Kongco ini, Presiden Jokowi tidak semestinya hanya mengajak masyarakat untuk tak lagi meributkan diri, terutama menyangkut permasalahan Suku Ras Agama dan Antargolongan (SARA).

"Jangan lagi bicara hoax, ribut soal patung, ribut soal SARA, sibuk adu domba antarkita sendiri," ujar Jokowi di JiExpo, Jumat (11/8)..

Selain itu, Presiden juga harus memperhatikan sentimen anti-China di tanah air yang meningkat sejak kampanye pemenangan Ahok yang mulai digelar jor-joran sejak pertengahan 2015.

0 Komentar

Belum ada komentar di artikel ini, jadilah yang pertama untuk memberikan komentar.

BERITA TERKAIT

BACA BERITA LAINNYA

POLLING

Dampak PPN 12% ke Rakyat, Positif atau Negatif?