Selain itu, Ramadan juga membentuk kepemimpinan adil melalui penghayatan nilai-nilai keikhlasan, kejujuran, serta keadilan. Kepemimpinan adil yang diharapkan dalam konteks politik bukanlah sekadar berkuasa, tetapi juga mampu memberikan keadilan, memberikan perlindungan terhadap hak-hak rakyat, serta mampu menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. Dengan membumikan etika politik dalam Ramadan, diharapkan para pemimpin dapat mengambil manfaat dari pelajaran Ramadan untuk mewujudkan kepemimpinan yang adil dan berpihak kepada rakyat.
Dalam konteks global, Ramadan juga memberikan pelajaran tentang solidaritas dan persatuan umat manusia. Masyarakat Muslim yang menjalani puasa Ramadan merasakan secara langsung bagaimana rasanya berpuasa dan merasakan lapar. Hal ini seharusnya menjadi pemicu untuk menciptakan empati terhadap sesama manusia, tanpa memandang perbedaan agama, ras, dan budaya. Solidaritas yang diperoleh dari pengalaman Ramadan dapat diaplikasikan dalam konteks politik global untuk memperjuangkan keadilan sosial dan persatuan umat manusia.
Namun, perlu diakui bahwa masih banyak persoalan terkait dengan etika politik yang harus dihadapi, baik di tingkat lokal maupun global. Korupsi, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial masih menjadi permasalahan yang belum terselesaikan. Oleh karena itu, pelajaran dan nilai-nilai yang diperoleh selama Ramadan seharusnya menjadi pemantik semangat untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan etika politik.