Sering kita dengar bahwa anak-anak itu seperti "spons" yang mampu menyerap informasi, terutama bahasa, dengan sangat cepat. Seorang anak kecil dari keluarga bilingual bisa beralih dari satu bahasa ke bahasa lain tanpa kesulitan, suatu hal yang sering membuat orang dewasa terkagum-kagum. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari kombinasi unik antara faktor biologis, neurologis, dan lingkungan yang hanya terjadi di masa kanak-kanak. Kemampuan luar biasa ini punya alasan kuat yang menjadi subjek penelitian para ahli saraf dan linguistik selama beberapa dekade.
Jendela Emas Pembelajaran Otak
Salah satu alasan paling mendasar mengapa anak-anak unggul dalam belajar bahasa adalah plastisitas otak yang luar biasa di usia muda. Plastisitas mengacu pada kemampuan otak untuk beradaptasi, berubah, dan membentuk koneksi saraf baru. Pada masa kanak-kanak, terutama antara usia 0 hingga 7 tahun, otak berada dalam periode yang disebut "jendela kritis" atau "jendela emas" untuk belajar bahasa.
Di masa ini, otak masih sangat fleksibel dan efisien dalam menyerap pola-pola baru, termasuk aturan gramatikal, kosa kata, dan fonologi (bunyi-bunyian bahasa). Jalur saraf yang diperlukan untuk pemrosesan bahasa terbentuk dengan sangat cepat. Setelah melewati masa ini, plastisitas otak mulai berkurang. Meskipun orang dewasa masih bisa belajar bahasa baru, prosesnya menjadi lebih sulit, lebih lambat, dan cenderung membutuhkan usaha yang lebih besar untuk mencapai tingkat kefasihan yang sama seperti penutur asli.
Bagi anak kecil, pemrosesan bahasa baru tidak hanya melibatkan satu area otak. Otak mereka secara efektif menggunakan seluruh bagian otak yang tersedia untuk menguasai bahasa. Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung mengandalkan area spesifik untuk bahasa, anak-anak membangun peta neurologis yang lebih luas, sehingga memungkinkan mereka untuk mengolah bahasa secara lebih intuitif dan alami.