Penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa mikroplastik dapat menumpuk di usus, hati, ginjal, dan bahkan otak. Kehadiran partikel ini dapat memicu peradangan kronis pada usus, yang berpotensi menyebabkan masalah pencernaan dan penyakit seperti Inflammatory Bowel Disease (IBD). Partikel-partikel ini juga bisa berfungsi sebagai "vektor" atau pembawa bagi bahan kimia berbahaya. Plastik seringkali mengandung zat aditif seperti phthalates dan BPA (bisphenol A) yang diketahui dapat mengganggu sistem hormon (endokrin). Ketika mikroplastik masuk, zat-zat kimia ini dapat dilepaskan dan berinteraksi dengan tubuh, berpotensi mengganggu keseimbangan hormon dan memengaruhi fungsi reproduksi.
Bahaya pada Sistem Kekebalan Tubuh dan Hormonal
Dampak mikroplastik tidak berhenti pada organ internal. Sistem kekebalan tubuh kita juga bisa terpengaruh. Ketika mikroplastik masuk ke dalam tubuh, sistem imun mungkin menganggapnya sebagai benda asing dan memicu respons peradangan. Jika paparan ini berlangsung terus-menerus, respons imun bisa menjadi berlebihan atau tidak terkendali, yang dapat menyebabkan penyakit autoimun atau menurunkan efektivitas sistem kekebalan dalam melawan penyakit lain.
Lebih lanjut, bahan kimia yang terikat pada mikroplastik, seperti BPA dan phthalates, merupakan pengganggu endokrin yang sangat berbahaya. Zat-zat ini meniru hormon alami tubuh dan dapat mengganggu fungsi kelenjar endokrin. Paparan zat-zat ini telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan reproduksi, obesitas, dan bahkan beberapa jenis kanker. Zat-zat ini juga dapat menembus plasenta pada wanita hamil, berpotensi memengaruhi perkembangan janin.
Hubungan dengan Penyakit Paru-paru
Jalur pernapasan menjadi perhatian khusus. Sebuah penelitian di Inggris menemukan mikroplastik di jaringan paru-paru manusia yang hidup, dan partikel-partikel ini juga ditemukan di paru-paru pasien yang menderita kanker paru-paru. Meskipun penelitian ini masih belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat, keberadaan mikroplastik di organ vital ini menimbulkan pertanyaan serius. Partikel plastik yang dihirup dapat menyebabkan iritasi kronis, peradangan, dan kerusakan pada sel-sel paru-paru, yang dalam jangka panjang bisa memicu penyakit pernapasan seperti asma atau bahkan penyakit yang lebih serius.