Penggabungan ini diharapkan dapat menghasilkan sinergi biaya yang signifikan, dengan estimasi pra-pajak mencapai 300 juta dolar AS (Rp 4,7 triliun) hingga 400 juta dolar AS (Rp 6,3 triliun) setiap tahun, setelah integrasi jaringan dan optimasi sumber daya rampung dilaksanakan. “Merger ini tidak sekadar menyatukan usaha, tetapi juga langkah strategis dalam membangun infrastruktur digital yang kuat, memperkuat konektivitas, memandirikan masyarakat, sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di kancah regional,” ucap Arsjad Rasjid selaku Presiden Komisaris XLSmart.
Setelah penggabungan, XL Axiata akan tetap menjadi entitas yang bertahan, sedangkan Smartfren dan SmartTel akan menjadi bagian dari XLSmart. Namun, semua merek – XL Axiata, Smartfren, dan XLSmart – akan tetap hadir dalam operasional setelah proses merger selesai. Operator XLSmart dijadwalkan akan mulai beroperasi penuh pada 16 April 2025.
Ketika merger ini dilakukan, Axiata Group Berhad dan Sinar Mas akan menguasai 34,8 persen saham XLSmart masing-masing, memberikan kekuatan dan pengaruh dalam keputusan strategis yang diambil oleh perusahaan.
Sebagai bagian dari perubahan ini, susunan direksi dan komisaris XLSmart yang disetujui dalam RUPSLB juga telah ditetapkan dan terdiri dari individu-individu berpengalaman seperti Rajeev Sethi sebagai Presiden Direktur & CEO serta Arsjad Rasjid sebagai Presiden Komisaris. Susunan lengkap direksi dan komisaris menunjukkan komitmen XLSmart untuk menggabungkan pengalaman dan keahlian dari berbagai pihak guna menciptakan perusahaan telekomunikasi yang lebih efisien dan inovatif.