Geliat Ekonomi Peternak Pasca Libur Panjang
Dinamika pasar komoditas pangan, khususnya unggas, kembali menunjukkan tren yang positif. Harga ayam hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak mulai berangsur pulih setelah sebelumnya sempat tertekan cukup dalam. Pelemahan harga tersebut dipicu oleh menurunnya permintaan masyarakat selama masa libur sekolah yang bertepatan dengan periode bulan Suro dalam penanggalan Jawa.
Bagi para pelaku usaha di sektor peternakan, pergerakan harga ini merupakan angin segar. Beroperasinya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi salah satu motor penggerak utama yang mendorong peningkatan permintaan unggas secara signifikan di pasaran. Fenomena fluktuasi harga pangan ini menjadi indikator penting dalam melihat stabilitas ekonomi riil, mengingat dampaknya yang langsung menyentuh hajat hidup masyarakat luas dan kesejahteraan peternak rakyat.
Analisis Kondisi Pasar: Kesaksian dari Peternak Rakyat
Parjuni, selaku Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, mengonfirmasi bahwa anjloknya harga dalam beberapa pekan terakhir dipicu oleh kombinasi penurunan konsumsi masyarakat pada bulan Suro di wilayah Jawa, serta berhentinya sementara operasional dapur MBG selama masa libur sekolah.
"Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand (permintaan) dari masyarakat itu turun," jelas Parjuni.
Namun, kondisi pasar kini mulai membaik setelah aktivitas sekolah kembali normal. Dampaknya langsung terasa pada pergerakan harga di lapangan. Harga telur di tingkat peternak yang sebelumnya sempat terperosok ke kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram, kini perlahan terkerek naik menjadi sekitar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Meskipun perlahan pulih, angka tersebut dinilai masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) ideal yang ditetapkan oleh pemerintah agar peternak tidak merugi.