Oleh karena itu, para peternak menaruh harapan besar agar pemerintah dapat mempertahankan dan memperluas program-program serapan pangan yang melibatkan peternak rakyat guna menjaga stabilisasi harga di tingkat produsen.
Respon Bapanas dan Peningkatan Harga Secara Nasional
Di sisi pemerintahan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memantau pergerakan harga unggas secara ketat. Sebelumnya, Bapanas telah menugaskan ID FOOD untuk menyalurkan bantuan kepada sekitar 1,4 juta keluarga berisiko stunting, berupa satu kilogram daging ayam dan 10 butir telur setiap bulan. Terkait kelanjutan program intervensi tersebut, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa pelaksanaannya masih menunggu keputusan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas).
Ketut Astawa memastikan bahwa tren kenaikan harga ayam dan telur di tingkat peternak saat ini merupakan siklus wajar akibat normalnya kembali permintaan dari program MBG. "Tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," tuturnya.
Berdasarkan data Bapanas per pertengahan Juli 2026, rata-rata harga ayam broiler hidup di tingkat peternak telah mencapai Rp22.032 per kilogram. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 5,53% dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di angka Rp20.878 per kilogram. Kendati demikian, terdapat disparitas harga antarwilayah terkait kendala distribusi dan logistik. Harga terendah tercatat di Sumatra Selatan sebesar Rp19.500 per kilogram, sedangkan harga tertinggi di Riau mencapai Rp26.000 per kilogram.
Sementara itu, harga telur ayam ras di tingkat peternak juga mengalami kenaikan 2,2% menjadi rata-rata Rp22.989 per kilogram dari sebelumnya Rp22.495 per kilogram. Di beberapa daerah seperti Sulawesi Utara, harganya bahkan melampaui HAP dengan menembus Rp27.067 per kilogram, sedangkan di Banten masih stabil di kisaran Rp21.250 per kilogram.