Isu lingkungan di Kota Singkawang dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius, terutama terkait meningkatnya volume sampah rumah tangga dan sampah plastik. Pertumbuhan jumlah penduduk, aktivitas perdagangan, pariwisata, serta pola konsumsi masyarakat yang semakin modern berkontribusi terhadap bertambahnya produksi limbah setiap hari. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berdampak pada kualitas udara, pencemaran tanah, hingga gangguan ekosistem pesisir yang menjadi salah satu daya tarik utama kota ini.
https://dlhkotasingkawang.org/struktur/ menjadi salah satu referensi penting untuk memahami bagaimana sistem dan struktur pengelolaan lingkungan di Singkawang dijalankan secara kelembagaan. Melalui struktur organisasi yang jelas, pengelolaan sampah tidak hanya dilakukan secara operasional di lapangan, tetapi juga direncanakan secara strategis dengan pendekatan yang semakin modern. Transformasi inilah yang menjadi titik penting perubahan, dari sistem konvensional menuju sistem berbasis teknologi dan data.
Selama bertahun-tahun, pengelolaan sampah di banyak daerah masih mengandalkan pola kumpul–angkut–buang. Sampah dikumpulkan dari rumah tangga, diangkut menggunakan truk, lalu dibuang ke tempat pembuangan akhir. Namun, pendekatan ini memiliki banyak keterbatasan, terutama ketika volume sampah meningkat signifikan. Di Singkawang, tekanan terhadap kapasitas TPA seperti TPA Wonosari menjadi salah satu tantangan nyata yang harus segera diatasi dengan inovasi baru.
Teknologi hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Konsep smart waste management mulai diperkenalkan sebagai pendekatan yang lebih efisien dan terukur. Misalnya, penggunaan sistem pendataan digital untuk memantau volume sampah harian memungkinkan pemerintah mengetahui wilayah mana yang menghasilkan sampah terbanyak dan membutuhkan perhatian lebih. Dengan data yang akurat, perencanaan armada pengangkutan bisa dilakukan lebih efektif sehingga tidak ada lagi penumpukan sampah di titik-titik tertentu.