Tren Produksi dan Tarif Cukai dalam Tiga Tahun Terakhir
Untuk memahami dinamika industri ini, berikut ringkasan data tiga tahun terakhir:
-
Tahun 2022:
-
Produksi rokok: 323,9 miliar batang
-
Penerimaan CHT: Rp218,3 triliun
-
Kenaikan tarif: 12%
-
Tahun 2023:
-
Produksi rokok: 318,1 miliar batang
-
Penerimaan CHT: Rp213,5 triliun
-
Kenaikan tarif: 10%
-
Tahun 2024:
-
Produksi rokok: 317,4 miliar batang
-
Penerimaan CHT: Rp216,9 triliun
-
Kenaikan tarif: 10%
Dari data ini, terlihat bahwa kenaikan tarif tidak lagi menjamin kenaikan penerimaan, karena produksi rokok menurun cukup signifikan. Menurut Askolani, jika dulu tarif naik dan produksi tetap stabil, kini kenaikan tarif menunjukkan elastisitas yang tinggi, artinya setiap kenaikan justru menurunkan jumlah produksi secara langsung.
Fenomena Rokok Murah dan Maraknya Rokok Ilegal
Kondisi ini juga memunculkan fenomena rokok murah dan semakin maraknya peredaran rokok ilegal di pasar domestik. Menurut catatan DJBC, sepanjang kuartal pertama 2025 telah terjadi lebih dari 2.900 penindakan terhadap peredaran rokok ilegal, dengan total nilai mencapai sekitar Rp367 miliar.
Selain itu, 257 juta batang rokok ilegal berhasil diamankan. Rokok ilegal tersebut tidak hanya berasal dari produsen dalam negeri, tapi juga diselundupkan dari luar negeri. Hal ini menjadi tantangan baru bagi pemerintah, karena peningkatan tarif yang tidak diimbangi dengan pengawasan ketat justru membuka celah bagi peredaran rokok tanpa cukai resmi.
Kebijakan Cukai dan Tantangannya di Masa Depan