Tampang

IKN dan Kereta Cepat KCIC: Dua Proyek Strategis yang Menjadi Beban Keuangan Negara

30 Agu 2025 06:17 wib. 44
0 0
beban keuangan negara

2. Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCIC): Proyek Merugi dan Potensi "Overtake" oleh China

  • Proyeksi Ekonomi Tidak Realistis

Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang dikerjakan oleh PT KCIC sejak awal dipandang bermasalah. Biaya proyek membengkak dari perkiraan awal sekitar Rp 86 triliun menjadi lebih dari Rp 114 triliun. Jokowi sempat menjanjikan bahwa proyek ini tidak akan menggunakan dana APBN. Namun kenyataannya, sebagian utang dan pembiayaan disubsidi oleh pemerintah.

Lebih parahnya lagi, kajian bisnis memperkirakan bahwa pelunasan investasi kereta cepat ini bisa memakan waktu hingga 170 tahun, dengan kerugian operasional triliunan rupiah per tahun karena tingkat okupansi penumpang jauh di bawah kapasitas.

  • Ancaman terhadap PT KAI

Sebagai pemegang saham lokal terbesar, PT KAI dipaksa menanggung beban kerugian. Padahal PT KAI selama ini adalah BUMN strategis yang menopang layanan transportasi massal rakyat. Jika kerugian berlanjut:

  • PT KAI berpotensi menjadi perusahaan BUMN paling merugi di Indonesia.

Ada kemungkinan aset atau sahamnya harus dijual atau dikompromikan kepada pihak asing (dalam hal ini perusahaan China yang menjadi mitra KCIC), yang akan berdampak langsung pada kedaulatan ekonomi nasional.

Dampak terhadap masyarakat:

  1. Tarif tinggi, subsidi negara. Harga tiket kereta cepat jauh dari kata murah, sehingga masyarakat lebih memilih moda transportasi lain.
  2. Inefisiensi tenaga kerja. Alih-alih membuka lapangan kerja besar-besaran, mayoritas tenaga ahli dan teknologi masih bergantung pada pihak China.
  3. Kerugian domino. Jika KCIC terus merugi, APBN kembali harus menutup defisit, yang artinya rakyat kembali menjadi pihak yang menanggung biaya.

3. Konsekuensi Terhadap Keuangan dan Tenaga Kerja Indonesia

  • Gabungan beban fiskal IKN dan KCIC dapat menimbulkan efek domino terhadap perekonomian:
  • Defisit APBN meningkat. Proyek infrastruktur yang tidak menghasilkan return on investment (ROI) cepat akan memperbesar utang negara.
  • Terbatasnya ruang fiskal untuk sektor produktif. Dana yang seharusnya dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan tenaga kerja justru tersedot untuk menutup proyek-proyek mercusuar.
  • Risiko ketergantungan asing. Jika PT KAI tidak mampu membayar kewajiban, skenario terburuk adalah pengambilalihan sebagian aset oleh mitra China, sehingga menimbulkan ancaman terhadap kedaulatan ekonomi.

0 Komentar

Belum ada komentar di artikel ini, jadilah yang pertama untuk memberikan komentar.

BERITA TERKAIT

BACA BERITA LAINNYA

POLLING

Dampak PPN 12% ke Rakyat, Positif atau Negatif?