Karena itu, Heri menyatakan bahwa bencana banjir rob akibat penurunan permukaan tanah dan kenaikan muka air laut harus dihadapi dengan serius. Selain itu, langkah-langkah untuk mengurangi risiko bencana harus dilakukan melalui upaya manajemen kebencanaan.
Pemerintah telah melakukan langkah awal dalam rangka pengurangan risiko, seperti pembuatan tanggul di pesisir pantai, meninggikan infrastruktur pesisir, dan melakukan evakuasi penduduk pesisir di beberapa wilayah tertentu. Namun, Heri menegaskan bahwa untuk langkah-langkah yang lebih ultimate dan best practice ke depannya, perlu dimulai dari pendalaman masalah, pemantauan, dan pemetaan bahaya. Selanjutnya, upaya prevensi, mitigasi, dan adaptasi yang lebih terukur juga harus dilakukan.
Data hasil penelitian Heri Andreas menunjukkan bahwa masalah banjir rob di Indonesia merupakan isu serius yang memerlukan perhatian besar, dengan 112 kabupaten/kota terdampak. Hal ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk berkolaborasi dalam menyusun langkah-langkah konkret guna menghadapi masalah ini.
Sementara Jakarta telah berhasil menjadi model dalam penanganan bencana akibat penurunan tanah, daerah lain masih perlu mengintegrasikan strategi pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari perencanaan pembangunan wilayah pesisir. Selain itu, pemetaan bahaya dan mitigasi bencana perlu menjadi prioritas untuk mencegah kerugian yang lebih besar di masa depan.