Di berbagai belahan dunia, dari Afrika hingga Eropa dan Asia, banyak negara telah mengambil langkah berani dengan melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai secara total. Keputusan drastis ini didasari oleh serangkaian alasan mendesak, mulai dari kerusakan ekologis hingga tantangan kesehatan publik.
Ancaman Terhadap Ekosistem Laut dan Darat
Alasan utama di balik larangan kantong plastik adalah dampak lingkungan yang masif. Kantong plastik terbuat dari bahan petrokimia yang sulit terurai. Mereka bisa membutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk benar-benar hilang dari lingkungan. Selama proses itu, kantong plastik sering kali berakhir di lautan, sungai, dan lahan.
Di lautan, kantong plastik menjadi salah satu polutan terbesar. Laporan PBB menunjukkan bahwa jutaan ton sampah plastik masuk ke laut setiap tahun. Hewan laut, seperti penyu, ikan, dan mamalia laut, sering kali mengira kantong plastik sebagai makanan atau ubur-ubur. Ketika tertelan, kantong plastik bisa menyumbat saluran pencernaan mereka, menyebabkan kelaparan dan kematian. Selain itu, plastik juga bisa menjerat hewan-hewan ini, membuat mereka mati lemas atau terluka.
Di daratan, kantong plastik menyumbat saluran air, got, dan drainase. Akibatnya, sistem drainase menjadi tidak berfungsi, meningkatkan risiko banjir, terutama di wilayah perkotaan padat. Di tanah pertanian, partikel plastik dapat mencemari tanah, merusak kesuburan, dan memengaruhi hasil panen. Lingkungan yang tercemar plastik juga menjadi tidak nyaman dipandang, menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Dampak Buruk pada Kesehatan Manusia
Kantong plastik tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga bisa membahayakan kesehatan manusia. Saat kantong plastik terurai menjadi fragmen yang sangat kecil, yang dikenal sebagai mikroplastik, partikel-partikel ini bisa masuk ke rantai makanan. Ikan dan hewan laut lainnya yang mengonsumsi mikroplastik pada akhirnya akan dimakan oleh manusia.