Dalam video tersebut terlihat Afia hanya mengenakan handuk namun dengan wajah penuh make up. Rahma dan rekannya langsung bertanya keberadaan baju-baju mereka yang diambil oleh Afia. Namun, Afia terus membela diri dengan alasan bahwa barang yang dia ambil adalah pinjaman dari teman kosannya.
Setelah dihadapkan pada kenyataan, Afia akhirnya mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada anak-anak kosan. Tetapi, kejadian ini tidak berhenti sampai di situ. Afia justru curhat kepada temannya bahwa dirinya merasa difitnah. Alih-alih merasa bersalah, Afia justru tak mengakui kesalahannya dan mengalihkan perhatian kepada barang-barang miliknya yang juga banyak yang hilang.
Kejadian ini pun akhirnya menyebar luas di media sosial, membuat kakak Afia turun tangan dengan meminta maaf kepada anak-anak kosan. Dalam pertemuan terakhir, Afia kembali meminta maaf kepada anak-anak kosan atas perbuatannya.
Kasus ini menjadi pelajaran bagi banyak pihak, bahwa penampilan di media sosial tidak selalu mencerminkan kebenaran. Image baik yang dibangun di media sosial ternyata hanya sebuah bayangan belaka. Semua orang perlu mempertimbangkan tindakan mereka secara bijak dan bertanggung jawab, terlebih lagi dalam hal mempengaruhi orang lain. Kepercayaan dan reputasi yang sudah dijaga dengan susah payah bisa hancur dengan cepat akibat sebuah tindakan yang ceroboh.