Ketakutan akan stigma sosial juga berperan besar dalam menciptakan kecemasan terhadap kegagalan. Banyak orang khawatir bahwa jika mereka gagal, orang lain akan memandang mereka dengan pandangan negatif. Dalam pandangan masyarakat, keberhasilan sering kali dikaitkan dengan nilai diri dan integritas seseorang. Akibatnya, ketika seseorang mengalami kegagalan, mereka tidak hanya merasa kecewa terhadap diri sendiri, tetapi juga takut akan penilaian buruk dari orang lain. Hal ini, pada gilirannya, dapat menghambat individu untuk mencoba hal-hal baru, yang sangat penting dalam proses pengembangan diri.
Sebagai tambahan, pengalaman masa lalu yang buruk dapat memperkuat ketakutan akan kegagalan. Ketika seseorang pernah mengalami kegagalan yang menyakitkan di masa lalu, memori tersebut dapat mengintimidasi mereka di masa depan. Rasa sakit dari kegagalan tersebut dapat membentuk pola pikir yang defensif, di mana individu lebih memilih untuk tidak mengambil risiko daripada menghadapi kemungkinan untuk gagal lagi. Dalam konteks psikologi manusia, ini dikenal sebagai "trauma kegagalan," di mana individu secara tidak sadar menghindari situasi yang mungkin membangkitkan rasa sakit tersebut.
Terkadang, ketakutan akan kegagalan juga bisa diakhiri dengan mekanisme koping yang tidak sehat, seperti prokrastinasi. Ketika seseorang merasa terlalu tertekan oleh kemungkinan untuk gagal, mereka mungkin lebih memilih untuk menunda tugas atau kewajiban yang harus dilakukan. Dalam banyak kasus, ini menambah ketakutan mereka terhadap kegagalan, karena semakin lama mereka menghindar, semakin besar rasa cemas yang mereka rasakan. Proses pengembangan diri menjadi terhambat, karena individu tidak pernah benar-benar mengambil langkah untuk menghadapi ketakutan mereka.