Beban Emosional dan Tugas Manajerial
Selain beban mental, invisible labor juga mencakup beban emosional. Ini adalah tugas untuk mengelola emosi dan kebutuhan semua anggota keluarga. Contohnya, menjadi penengah saat anak-anak bertengkar, menenangkan pasangan yang sedang stres, atau memastikan setiap orang merasa dicintai dan didukung. Sering kali, pekerjaan ini dilakukan tanpa disadari dan dianggap sebagai "naluri alami."
Ada juga tugas-tugas manajerial yang masuk dalam kategori invisible labor. Mengorganisir liburan keluarga, membuat jadwal piket anak, mencari dan mendaftar kegiatan ekstrakurikuler, serta mengelola anggaran rumah tangga adalah contoh pekerjaan manajerial. Pekerjaan ini memerlukan keterampilan perencanaan, negosiasi, dan eksekusi yang sama seperti pekerjaan di kantor, tetapi dilakukan di rumah tanpa bayaran atau pengakuan.
Secara tradisional, sebagian besar invisible labor ini dibebankan pada perempuan. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan yang signifikan. Perempuan mungkin merasa lelah dan terbebani, sementara pasangan mereka tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ketidakpahaman ini bisa memicu konflik dan rasa frustrasi yang mendalam dalam hubungan. Pasangan yang tidak melakukan invisible labor mungkin merasa sudah adil karena mereka melakukan pekerjaan fisik atau bekerja di luar rumah, tanpa menyadari bahwa ada pekerjaan lain yang jauh lebih banyak dan melelahkan yang mereka lewatkan.
Menciptakan Keseimbangan dan Pengakuan
Mengatasi invisible labor membutuhkan lebih dari sekadar pembagian tugas fisik. Ini memerlukan kesadaran, pengakuan, dan komunikasi yang terbuka dari semua pihak yang terlibat. Langkah pertama adalah mengakui bahwa invisible labor itu nyata. Kedua belah pihak harus duduk bersama dan membuat daftar semua pekerjaan yang perlu dilakukan untuk menjalankan rumah tangga, termasuk tugas-tugas mental dan emosional yang sering terlupakan.