Sementara itu, perkembangan yang tidak menguntungkan juga menghampiri eFishery, startup perikanan lain di Indonesia. Pendiri eFishery baru-baru ini dituduh melakukan pemalsuan laporan keuangan. Kabar ini tentu saja menambah keprihatinan para investor yang semakin skeptis terhadap kelayakan investasi di sektor agritech. Situasi yang dihadapi eFishery menambah gelombang tantangan di industri, yang berpotensi mempengaruhi semua pelaku bisnis di dalamnya.
Aruna sendiri telah beroperasi sejak tahun 2016, didirikan oleh Farid bersama Indraka Fadhlillah dan Utari Octavianty. Startup ini mendapat perhatian serius dari para investor, terlihat dari pendanaan terakhir yang berhasil mereka kumpulkan, senilai US$ 35 juta dalam pendanaan Seri A yang dipimpin oleh Prosus Ventures dan East Ventures. Namun, pada 2023, mereka hampir mengamankan pendanaan sebesar US$ 60 juta yang sayangnya tidak berhasil terwujud.
Farid menegaskan bahwa Aruna tetap berkomitmen untuk menjalankan praktik bisnis yang bertanggung jawab dan transparan, walaupun di tengah penyesuaian organisasi yang kini harus dilakukan. Fokus Aruna saat ini adalah untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional, agar tetap dapat bersaing dalam iklim yang menantang ini.
Industri agritech di Indonesia pun kian diperhatikan. Banyaknya kasus terkait kinerja dan keuangan startup di sektor ini menjadikan para investor lebih selektif memilih mitra bisnis mereka. Implikasi dari tren ini sangat besar; banyak startup yang sebelumnya menjanjikan kini harus menghadapi kenyataan pahit dari ketatnya akses modal dan meningkatnya skeptisisme di pasar.