Setiap tambang memiliki nilai ekonomi yang luar biasa, bahkan disebutkan bahwa hasil dari tambang-tambang ini setara dengan satu juta gulden. Pada saat itu, nilai ini sangat besar dan menunjukkan bahwa Sumatera memang memiliki kekayaan emas yang luar biasa.
Tidak hanya Sumatera Barat, wilayah Aceh juga memiliki sejarah panjang terkait tambang emas. Sejarawan Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh (1986) menyebutkan bahwa kerajaan Aceh memiliki sekitar 300 tambang emas yang mampu menghasilkan emas berkualitas tinggi, bahkan mencapai kadar 24 karat.
Penjelajah asal Prancis, Agustin de Beaulie, dalam catatannya juga mengungkapkan bahwa tanah di Aceh mengandung emas yang bisa ditemukan dalam bentuk gumpalan. Hal ini menunjukkan bahwa emas di Sumatera tidak hanya tersebar luas tetapi juga bisa ditemukan dengan cukup mudah oleh penduduk setempat.
Eksploitasi Emas oleh Kolonial Belanda
Dengan kekayaan emas yang begitu besar, Sumatera menjadi incaran utama para penjajah, termasuk kolonial Belanda. Selama masa kolonialisme, Belanda melakukan eksplorasi dan eksploitasi besar-besaran terhadap tambang emas di Sumatera.
Bagi Belanda, emas dari Sumatera menjadi salah satu sumber pendapatan utama selain rempah-rempah. Mereka membangun sistem pertambangan yang lebih sistematis untuk memaksimalkan hasil emas yang bisa diambil.
Tidak hanya Belanda, penduduk lokal juga memanfaatkan sumber daya emas ini. Banyak pengusaha lokal yang mulai menambang dan mengolah emas untuk dijual, sehingga lahirlah para saudagar kaya dari bisnis emas.
Kontribusi Emas Sumatera dalam Sejarah Indonesia
Selain menjadi sumber kekayaan bagi para pengusaha dan kolonialis, emas dari Sumatera juga memiliki peran besar dalam sejarah Indonesia, terutama dalam era kemerdekaan. Banyak pejuang dan tokoh nasional yang menggunakan emas sebagai modal untuk membiayai perjuangan kemerdekaan.