Analisis tulisan tidak hanya terbatas pada bentuk huruf saja. Tekanan yang digunakan saat menulis juga dapat memberi wawasan menarik tentang kepribadian. Misalnya, tekanan yang kuat bisa menunjukkan ketekunan dan semangat yang tinggi, sedangkan tekanan yang lemah sering kali menunjukkan kurangnya energi atau ketidakpastian. Demikian pula, keluwesan atau kekakuan dalam tulisan bisa mencerminkan fleksibilitas atau kekerasan hati seseorang.
Meskipun banyak orang percaya pada hubungan antara tulisan tangan dan kepribadian, ada juga skeptisisme terkait dengan grafologi. Kritikus berpendapat bahwa tidak ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung klaim bahwa tulisan tangan bisa secara akurat mencerminkan sifat manusia. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa analisis tulisan tidak selalu konsisten atau dapat diandalkan dalam menilai kepribadian.
Namun, para pendukung grafologi meyakini bahwa analisis tulisan ini dapat memberikan wawasan yang berguna. Banyak bisnis, misalnya, menggunakan grafologi sebagai salah satu metode dalam rekrutmen untuk memahami karakter calon karyawan. Dalam beberapa kasus, hasil analisis tulisan bisa membantu manajer dalam membangun tim yang lebih seimbang berdasarkan sifat dan karakteristik individu.
Keterbatasan dari grafologi juga penting untuk disadari. Tulisan tangan dapat dipengaruhi oleh keadaan emosional seseorang pada saat menulis. Misalnya, seseorang yang sedang stres bisa saja menulis dengan cara yang berbeda dibandingkan saat suasana hatinya baik. Oleh karena itu, penting untuk tidak menggeneralisasi hasil analisis tulisan sebagai satu-satunya penanda kepribadian seseorang.