Tutup Iklan
Tryout.id
  
login Register
prabowo subianto

Yustinus Pratowo: Prabowo itu Pemimpin Masa Lalu, Rakyat: Jokowi itu Pemimpin Pembohong

20 Februari 2019 | Dibaca : 2156x | Penulis : Admin

Pengamat ekonomi, Yustinus Pratowo, mengungkapkan bahwa Prabowo Subianto tidak pantas menjadi presiden, contoh pemimpin masa lalu yang tidak mengenal industry 4.0, itu diungkapkan pada saat TV One, ILC 19 Februari 2019.

Langsung disanggah oleh Ferry Mursidan, di BPN (Badan Pemenangan Nasional) tidak pernah ada kalimat yang menyatakan Jokowi tidak pantas jadi pemimpin, apalagi jadi presiden, sesuatu yang tidak pantas dibicarakan, karena saat ini capres hanya ada 2 dan Yustinus Pratowo pendukung Jokowi. Yustinus juga menyampaikan bahwa kesalahan angka, dibolehkan pada saat debat, artinya data bohong boleh ditampilkan.

Tetapi rakyat juga boleh menilai, Jokowi itu presiden pembohong, apa yang dijanjikan tidak sesuai apa yang dilakukan. Jika arah kebijakan menuju yang dijanjikan masih bisa ditoleransi jika tidak sampai, tetapi ini arah kebijakannya berbeda arah,” ungkap Rizal Ramli.

Kebijakan impor kebutuhan pangan pada saat panen sangat merugikan petani. Dulu pada saat kampanye, Jokowi sesumbar akan menghentikan impor, segala macam kebutuhan pangan, sampai mengucapkan, “apa lagi?”, menandakan akan mengstop impor pangan. Lain di mulut lain dikerjakan. Impor pangan Indonesia masih berlangsung dan makin menggila. Kejadian rebut antara kepala Bulog, Budi Waseso dan Menteri Perdagangan, Enggar T, menunjukkan ketidaksamaan kebijakan atas dan bawahannya.

Jokowi bukan cuma pemimpin pembohong, tetapi pemimpin yang lemah terhadap menterinya, karena tidak mampu mengatur mereka. Menteri titipan dari partai politik membuat Jokowi merasa harus balas budi. Pada saat kampany tahun 2014, Jokowi bilang kabinet ramping, tidak perlu banyak seperti kabinet SBY, tetapi malahan sekarang kabinet gendut, malahan komisaris-komisaris BUMN pun diisi oleh orang politik. Tidak seperti jaman dulu, komisaris ditempati oleh direktur-direktur yang sudah pension, hal ini dimaksudkan untuk tetap bisa mengawasi BUMN yang dulu pernah dinakhodai. Sehingga BUMN tetap bisa maju sesuai dengan kebijakan direktur sebelumnya.

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Tukang Pos ini Mendonorkan 100 Galon Darah Selama Hidupnya dan Menyelamatkan Ribuan Nyawa
17 Agustus 2017, by Rio Nur Arifin
Hari ini sebuah berita yang sangat positif mampu membuat hati kita lebih damai. Masih banyak orang-orang berhati mulia di sekitar kita. Setiap dua minggu ...
PT KAI Buka Pemesanan Tiket untuk Mudik Lebaran Mulai 7 Maret Besok
6 Maret 2018, by Retno Indriyani
Tampang.com - Untuk mempersiapkan mudik Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri 1439 H yang diperkirakan jatuh pada 15-16 Juni, PT Kereta Api Indonesia (KAI) segera ...
Anda Memiliki Penyakit Asam Urat? Hindari 5 Makanan Berikut
22 Juni 2018, by Jenis Jaya Waruwu
Sehat itu mahal, tetapi karena kesibukan dalam berbagai tugas di pekerjaan membuat sebagian orang menjadi lupa dan mengabaikan kondisi fisiknya. Padahal ...
Tak Lagi Tergantung Dolar, Rupiah, Ringgit, dan Bath Kini Bersatu
19 Oktober 2017, by Rindang Riyanti
Kesepakatan antara Bank Indonesia (BI) bersama bank sentral Malaysia, Bank Negara Malaysia dan bank sentral Thailand, Bank of Thailand telah menyetujuan ...
Tanpa Setnov, DPR Tetap Bekerja
5 Oktober 2017, by Rindang Riyanti
Sejak jatuh sakit beberapa waktu yang lalu, Ketua DPR Setya Novanto tak pernah lagi nampak di kantornya. Sampai saat ini, Setnov belum bertugas di ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
hijab