Tutup Iklan
glowhite
  
login Register
Temukanlah Makna Hidupmu! Hidupkanlah Hidupmu!

Temukanlah Makna Hidupmu! Hidupkanlah Hidupmu!

5 Februari 2018 | Dibaca : 336x | Penulis : Dika Mustika

Neurosis noogenic. Ini adalah salah satu kondisi kepribadian yang sering dihadapi oleh orang-orang yang hidup di abad 21 seperti sekarang ini. Kondisi yang timbul di tengah ritme kerja yang sangat tinggi, tuntutan pekerjaan luar biasa banyaknya, dan (mungkin) interaksi sosial antar manusia semakin tergeserkan prioritasnya dibandingkan dunia ‘kerja’. Kondisi kepribaidan ini ternyata bukan hanya bisa dihadapi oleh orang dewasa saja, namun bisa juga dihadapi oleh anak-anak. Dan ternyata yang menghadapinya memang bisa siapa saja, tak pandang bulu. Karena masalah ini bisa terjadi pada orang dengan segala macam latarbelakang. Tak peduli lapisan sosial, pendidikan, kondisi ekonomi, ia bisa menimpa siapapun. Salah jika kita menyebutkan bahwa kondisi kepribadian ini hanya dihadapi oleh orang lulusan sekolah menengah saja, atau hanya dihadapi oleh orang dengan kesulitan ekonomi. Kondisi kepribadian ini bisa dijumpai pada orang yang sama sekali tak ada kesulitan ekonomi, juga bisa dijumpai pada orang dengan tingkat pendidikan yang tinggi.

 

Apa sih neurosis noogenic ini? Jika kamu merasa beberapa gejala seperti di bawah ini, ada kemungkinan kamu terkena neurosis noogenic. Gejala-gejalanya antara lain:

 

Jika kamu mengalami kebosanan dengan rutinitas. Jika dalam menghadapi rutinitas, kamu merasa sangat bosan dengan siklusnya: bangun, mandi, sarapan, berangkat ke kantor, menuntaskan tumpukan pekerjaan, makan siang, pulang, mandi, tidur, bangun, terus berulang, dan berulang. Bahkan kamu bosan dengan memikirkan menu makan siangmu, bagaimana kamu pulang kerja, dan lain sebagainya. Seakan semua tak berarti, tak menantang, dan tak menarik lagi untukmu.

 

Jika kamu merasa hampa setiap bangun tidur. Ketika kamu merasa, untuk apa sih perlu bangun tidur, toh nanti akan tidur lagi. Ketika kamu merasa kamu bagaikan robot yang mengulang-ulang serangkaian rutinitas tanpa ada berbagai emosi lagi di dalamnya menjalankannya, dingin dan hampa.

 

Jika kamu merasa putus asa. Bagai peribahasa, mati segan hidup tak mau. Itu salah satu gejalanya. Enggan melakukan berbagai hal, karena merasa akan selalu gagal. Tidak ada keinginan untuk mencari jawaban atas permasalahan hidup karena merasa “yang dulu-dulu juga gagal”.

 

Gejala selanjutnya adalah hilang minat dan inisiatif dalam keseharian. Coba ceklah diri sendiri, adakah pernah mengalami hilang minat. Misal: dulunya paling antusias hunting makanan jika ada cafe baru, kini enggan diajak ke mana-mana. Diajak hunting makanan, enggan. Diajak ke toko buku, tidak ada semangat. Diajak berolahraga juga tak pernah mood. Inisiatif pun hilang, bukan berkurang! Lebih baik kurang inisiatif daripada hilang sama sekali. Jika kehujanan misalnya, enggan untuk buka payung. “Biar saja tubuh basah, toh tak ada yang peduli mau tubuh ini basah atau tidak.”

 

Gairah kerja menurun. Jika sebelumnya selalu bisa memenuhi tenggat waktu pengumpulan laporan, kini jangankan ingin mengumpulkan laporan tepat waktu, untuk mengerjakannya saja tak ada semangat. Karena yang bekerja hanyalah fisiknya saja, tak ada makna, hati, atau pun semangat di sana.

 

Kondisi kepribadian ini dikembangkan berdasarkan teori kepribadian Victor Frankl. Dalam penelitiannya, ia menyebutkan bahwa yang membuat seseorang tetap ‘hidup’ adalah bukan hanya karena cukup makan, sandang, papan, atau uang. Tapi yang membuat seseorang tetap ‘hidup’ adalah semangat hidupnya. Nah, semangat hidup ini ada jika seseorang memiliki makna hidup.

 

Hal ini tergambarkan dengan kondisi ketika ada 2 orang yang sama-sama mengidap penyakit kanker. Orang pertama bisa bertahan hidup, namun orang ke-2 tidak bisa bertahan. Namun, tentu saja hal ini kita bicarakan terlepas dari takdirnya.

 

Nah, selanjutnya, apa yang bisa kita lakukan agar kita terhindar dari kondisi kepribadian seperti neorosis noogenic ini?

Agar terhindar dari kondisi ini, jika kita mengalami hal yang kurang menyenangkan, kita bisa mengobrol dengan teman, makan coklat, mandi dengan air hangat, atau menyetel musik yang riang. Intinya, jangan biarkan dirimu berada dalam kemurungan, apalagi seorang diri! Bahagiakan dan nyamankanlah dirimu!

 

Orang yang beresiko terkena neurisis noogenic adalah orang dengan sikap totaliter (selalu berbuat sesuai dengan keinginan oranglain dan orang ini akan selalu berusaha mematuhinya) dan orang dengan gaya hidup yang selalu ingin mengikuti gaya ‘kekinian’.

 

Ayo, temukan makna hidupmu agar hidupmu lebih ‘hidup’! Kuotes dalam salah satu film menyebutkan, “Kamu hanya memiliki satu kesempatan hidup. Kewajibanmulah untuk menghidupkan hidupmu sehidup mungkin!”

 

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Kebanyakan Makan Garam Sebabkan Gagal Jantung!
30 Agustus 2017, by Rio Nur Arifin
Sodium membantu tubuh melakukan berbagai fungsi biologis, sehingga sedikit garam dalam makanan kita bisa menyehatkan. Tapi terlalu banyak garam diketahui buruk ...
Terjadinya Petir Saat Gunung Meletus
25 Agustus 2017, by Noor Azizah
Sebelum membahas hubungan petir saat terjadi gunung meletus, maka baiknya kamu mengetahui fakta menarik tentang petir yang diulas dari situs Science Made ...
Lemah di Trek Basah, Pembalap Moto GP Yamaha Gagal Rajai Moto GP 2017
13 November 2017, by Admin
Tampang.com - Duet Valentino Rossi dan Maverick Vinales nyaris mencatat rekor buruk sebagai tandem paling gagal dalam satu dekade terakhir di Movistar ...
Laki - laki yang Depresi Menyebabkan Pasangannya Sulit Hamil
21 Mei 2018, by Slesta
Depresi pada pria dapat mengurangi kemungkinan bahwa pasangan yang berjuang dengan infertilitas pada akhirnya akan hamil, demikian hasil penelitian ...
Gulung Tikar, Perusahaan Taksi di Jakarta Sisa 4
9 Oktober 2017, by Rindang Riyanti
Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta mengungkapkan, kini hanya ada 4 perusahaan taksi yang bertahan dari sebelumnya ada 32 perusahaan taksi yang ada ...
 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved
 
Tutup Iklan
JusKulitManggis